para kritikus

9:51 PM


Seringkali aksi demo dijadikan salah satu jalan untuk menyalurkan aspirasi rakyat. Ga jarang para mahasiswa yang turun ke jalan-jalan dan melancarkan aksi demo. Kaya minggu lalu gue ditunjuk sebagai jenlap atau jendral lapangan yang bertugas sebagai kordinator demo dilapangan. Minggu lalu gue ditunjuk jadi jenlap buat melancarkan aksi demo kenaikan BBM dimana para jomblo harus diberikan subsidi bbm layaknya rakyat miskin diberikan BLT oleh pemerintah. Karna apa ? Dengan keadaannya yang sendiri sudah cukup menyiksa mereka para jomblo,apalagi kalo ditambah dengan kenaikan BBM yang semakin mencekik dompet para jomblo. Setidaknya mereka harus mengurangi sedikit nominal untuk menabung untuk masa depan mereka. Dan mengurangi tabungan mereka itu sama aja mengurangi peluang mereka meraih masa depan cerah. Setidaknya seorang jomblo itu harus sukses !!!!!! << provokasi macam apa ini.

Demo itu udah bukan jadi hal yang tabu untuk dilihat masyarakat banyak. Bahkan banyak dari kalangan masyarakat yang mencaci maki mahasiswa-mahasiswa yang berdemo turun ke jalan-jalan. Pernah setahun lalu gue join disalah satu social media yang buat upload-upload foto gitu (ya itulah namanya),disitu ada salah satu mahasiswa universitas dirahasiakan yang upload foto-foto demo tempo hari yang menyebabkan salah satu temennya itu kena pelurunya pak polisi. Yang gue baca dicomment foto-foto itu bukan keprihatinan akan tindakan polisi tersebut tapi malah caci maki dari masyarakat luas tentang demo anarkis yang mereka lakukan. Sempet kesel sih sebenernya mereka yang anarkis tapi kenapa nama mahasiswanya yang jadi jelek. Mahasiswa dibilang tukang demo lah padahal IP aja masih nasakom alias nasib mahasiswa ipk satu koma *amit amit*. 

Kritik. Demo-demo yang kita liat itu terjadi karna isu-isu yang marak terjadi di pemerintahan saat ini. Mahasiswa-mahasiswa itu turun ke jalan untuk mengkritik pemerintah pa BeYe yang menurut pemikiran mereka jauh dari kata memuaskan. Isunya bisa bermacam-macam. Sekarang ini para mahasiswa kita ramai-ramai demo sampe bakar spbu itu semata-mata untuk mengkritik jalan pemerintah dalam mengambil keputusan untuk menaikan harga bbm yang akan menyusahkan para kaum jomblo untuk mencari jodoh. Yang jadi pertanyaannya apa harus bertindak anarkis seperti itu ? Apalagi yang suka turun ke jalan raya. Kadang itu malah bikin macet dan ini malah memberikan citra yang negatif ke masyarakat kalau mahasiswa bisanya cuma demo. 


Para Kritikus.
Kritikus-kritikus ini ga cuma berasal dari kalangan mahasiswa aja loh jeng. Banyaaaaaak.. Masyarakat pun banyak yang memberikan kritiknya terhadap pemerintah. Coba lihat bapa wakil dpr kita pa ruhut sitompul,lawyer terkenal hotman paris,atau politikus-politikus lain yang rajin mengkritik sana sini. Coba sekarang kita ajukan satu pertanyaan buat mereka yang rajin "mengkritik" mentri-mentri kita,"coba bapa jadi mentri? tahan berapa lama toh pa?". Atau pertanyaan lain kepada para kritikus handal kita,"coba bapa jadi presiden gantiin SBY". Kira si kritikus tadi tahan berapa lama ya diposisi yang keputusannya selalu dikritik sana sini.

Memberikan sesuatu dalam hidup ini sesungguhnya lebih baik daripada mencemooh. Kritik itu memang wajar apalagi terhadap pemerintah yang seharusnya jadi pelayan yang baik bagi masyarakat. Tapi apa kita cukup paham dengan posisi yang sedang dia tempati itu? Sekali-kalinya gue ikut demo itu waktu dikampus dalam rangka mempertahankan STUDENT GOVERNMENT dalam pemerintahan kampus. Berawal dari "pengen tau" rasanya demo itu gimana,akhirnya gue tau gimana rasanya teriak-teriak dan ngata-ngatain rektor dipimpin sama kaka senior yang kira-kira udah semester dua digit. Dan kemudian gue diberi pencerahan oleh seorang dosen yang ngena banget. Kamu demo-demo gitu emang kuliahnya udah bener ? kritik para koruptor dihukum gantung emang kamu ujian udah engga korupsi? rasanya denger dosen ngeluarin kata-kata itu tuh kaya abis ditolak sama gebetan yang udah pedekate 3 bulan *bukan curcol*. Setelah meditasi beberapa hari digua jomra (jomblo ceria) akhirnya gue pun berusaha untuk pura-pura ga tau setiap dapet info bakal ada aksi demo disana atau disini. Dan sampe sekarang pun jumlah demo yang gue ikuti ga bertambah alias cuma sesekalinya itu aja. 

Dari situ nalar gue pun berlari-lari kesana kemari.. Kita sering kritik orang lain dengan pedas,tapi apa kita pernah berada di posisi seperti dia. Terkadang saking pedasnya kritik kita malah jadi mencemooh dan ujungnya ngata-ngatain. Coba kita jadi presiden,apa bakal berbeda jauh dari pemerintahan sekarang atau malah jauh lebih buruk ? Kritik itu emang penting buat kita supaya bisa introspeksi diri,tapi kadang kita harus punya rem dalam mengkritik sesuatu kan ? engga asal kritik tanpa berpikir jernih. Coba kritik itu kita ganti dengan melakukan sesuatu untuk kita sendiri. Misalnya menjadi mahasiswa dengan bakat yang banyak. Jadi enterpreneur,jadi pengajar disana sini,jadi pekerja sosial,atau kegiatan-kegiatan positif lainnya yang menciptakan sesuatu lebih baik untuk negri ini. Dan coba yang berpikir ini adalah mahasiswa-mahasiswa yang sering berdemo turun kejalan dengan jumlah yang banyak. 8 dari 10 mahasiswa jadi pengusaha mungkin akan jauh mengurangi angka pengangguran di Indonesia,dan jauh meringankan kemiskinan yang jadi polemik berkepanjangan negara kita. Kritik boleh tapi ada baiknya diimbangi dengan memberikan sesuatu yang bermanfaat dalam hidup ini. 

Berbuat sesuatu yang positif bagi diri sendiri dan orang lain itu 100 kali lebih baik ketimbang hanya bisa mengkritik dan mencemooh. 

You Might Also Like

12 comments

  1. ikut prihatin sama mahasiswa yg dikata-katain karena demo itu. padahal udah jelas yg salah itu pemerintahnya.

    menurutku demo itu ada seninya tersendiri. kalau gak ada demo, mana ada revolusi? hahahaha

    salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah itu dia. kadang kita cuma bisa mencemooh mereka yang berdemo. pdhal dulu yang nurunin soeharto juga lewat demo kan ya.

      Delete
  2. Hihihi pas banget ya jeng postingannya di musimnya demo begini, di Medan juga lagi banyak demo nih (apalagi kalo bukan karena kenaikan BBM. Aku setuju aja ama demo asal nggak anarkis tentunya...
    eh seumur-umur aku belum pernah ikutan demo loh :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. anarkis itu sebenernya cuma bermakna "mereka ingin didengar". slama ini kan mana pernah pemerintah mendengar suara kemiskinan masyarakat kan?

      Delete
  3. Yang jelas hukum di negeri ini semakin abu-abu..
    udah ngga jelas mana yang salah mana yang benar dan mana yang jadi korban..

    dan pendemo dinegeri ini, belum juga dewasa, makanya lebih banyak nimbulin anarkis ujungnya, tapi bukan salah mereka juga sih, coba pemerintah lebih hargai jerih payah mereka, bukan hanya jadi angin lalu..

    CMIIW

    ReplyDelete
    Replies
    1. DEAL !!!! cakeeep bener pendapatnya bang. gue juga ga pro trhdp aksi anarkis mereka tp juga ga kontra akan demo2 anarkis itu. ya semuanya itu beralasan kuat.

      Delete
  4. soal anarkis ya jelas gak setuju. skrg demo jd diidentikan dgn sikap anarkis,pdhal demo itu bisa dilakuin dgn tenang,aman,dan tentram,tanpa harus ada kawat berduri segala,emang macan.

    yah,semoga ada jln keluar dibalik aksi2 demo para mahasiswa ini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. biarin aja lah mereka rusak sana sini. toh emang pemerintahnya tuli kan.

      Delete
  5. Kalau saya sendiri sih tidak pernah ikutan demo. Dilarang mama soalnya. Kalaupun diizinkan, saya tetap tidak demo. Eh?

    ReplyDelete
  6. asal tujuannya baik salah banget kalo pake cara gak baik kaya misalnya rusuh gitu.

    Ada event buat para blogger nih, hadiahnya Samsung Galaxy ACE dan uang tunai, info lebih lanjut langsung saja ke blog saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bermacam-macam pendapat orang yg pro maupun kontra semoga Indonesia bisa lebih baik ya.

      Delete