masalah klasik ibukota : kemacetan

Pemilihan gubernur DKI akan segera dilaksanakan sekitar bulan Juni. Bener ga tuh ? Mane nih warga Jakarte ? Kebetulan aye mah tinggal di Tangerang Selatan,jadi kaga terlalu tau ntu kapan pemilihannya << ini kenapa jadi betawi tulen.. 
Sekitar enam pasangan mencalonkan diri menjadi orang nomor satu dan dua di ibukota kita. Dari mulai Joko Widodo sampe Alex Nurdin yang dari sumatera selatan juga ikut meramaikan pesta pemilihan gubernur ini. Yang sedang saya pikirkan apakah bapa Jokowi akan membagi-bagikan kemeja kotak-kotak gratis pra-pemilihan ? Kalo begitu saya akan meluncur ke titik pembagian kemeja tersebut. Lumayaaan pa buat babeh saya biar dikira jokowi abal-abal. 


Olrait.. Gubernur terpilih nanti diharapkan bisa menyelesaikan permasalahan yg sering terjadi di Ibukota macam Jakarta. Pengangguran, urbanisasi yg udah over dosis, kemiskinan, perumahan kumuh, banjir, ketidaktertiban lalu lintas, dan masalah klasik ibukota, yakni kemacetan. Dan kali ini sebagai warga pinggiran Jakarta, gue bakal bahas salah satu masalah klasik tadi. Kemacetan.

wajah Jakarta pada siang hari

Kemacetan. Siapa sih yang ga dibuat tekanan batin dengan kemacetan ? Berdasarkan analisis gue,mungkin warga DKI berpeluang menderita penyakit darah tinggi lebih besar ketimbang warga-warga daerah lainnya. Karna apa ? Dari mereka keluar rumah pun macet udah pasti dirasakan. Ya mungkin aja depan rumah ada tukang bubur lagi mangkal,pan jadinya macet tuh depan rumah. Nah kemacetan yang selalu dirasakan warga Jakarta ini udah minta ampun parahnya. Dari pagi sampai malem pun kita dengan mudah menemukan kemacetan dijalan-jalan diwilayah Ibukota. Ibarat lagi pedekate, macet itu menjadi salah satu penghambat terbangunnya suatu hubungan yang lebih serius. Dan entah kenapa, makin hari itu kemacetan di wilayah ibukota malah makin parah. Banyak pejalan kaki yang udah ga tau mesti jalan kaki dimana lagi karna trotoar masih ditabrak juga sama pengguna motor, banyak pengguna motor yang ga tau mau nyelip lewat mana lagi saking padatnya volume kendaraan di jalan, dan banyak mereka fakir asmara yang masih terlantarkan hatinya dipinggiran jalan kehidupan. Hal ini harus bisa diatasi oleh gubernur terpilih nanti. Entah menciptakan layanan transportasi terpadu, entah menciptakan subway / monorel, entah menciptakan jalan khusus untuk pejalan kaki, entah menciptakan jalur sepeda di ibukota, atau entah menciptakan lapangan asmara baru bagi fakir asmara, diharapkan gubernur terpilih nanti bisa mengatasi masalah klasik ibukota ini. 

SAMOSARANG >> SAtu MObil SAtu oRANG

Kenaikan volume kendaraan dijalan membuat pa polisi berkumis tebal kesulitan untuk mengatur lalu lintas dijalan DKI. Mau diarahin kesini ya macet,mau disuruh kesini ya macet,mending suruh kehati saya aja pa. *eh.. 
Infrastruktur yang kurang memadai juga salah satu alasan kenapa kemacetan kerap terjadi. Selain itu semakin hari volume kendaraan ga ada abisnya. Ga usah jauh-jauh deh, sekarang buat beli satu motor dengan modal hanya Rp. 500.000 rupiah aja udah bisa punya motor (kredit). Bahkan banyak yang tanpa DP udah bisa bawa pulang yamaha / honda. Gimana ga mau naik tuh volume kendaraan dijalanan. Selain itu yang kadang suka bikin gue jengkel dijalanan adalah, SAMOSARANG. Satu mobil satu orang, iya !! satu mobil cuma dikendarain sama satu orang AJAAAH !! 
SAMOSARANG mungkin menjadi trend bagi warga Jakarta. Khususnya anak-anak remajanya. Gimana ga keren ya kaaaan bawa mobil sendiri kemana-mana walaupun tanpa sadar dia menjadi salah satu penyebab kemacetan di Jakarta. Coba deh liat hunian-hunian kalangan menengah ke atas di ibukota. Minimal punya mobil tiga biji. Kalo satu keluarga isinya empat orang ya mobilnya ada empat. Ditambah lagi sama mobil yang udah disiapin buat si jabang bayi yang masih dikandungan. Itu pagimane ga mau macet kalo satu keluarga aja sekali keluar sampe empat mobil gitu ?????
Samosarang adalah salah satu faktor pendukung kemacetan di Jakarta. Alat dan sistem transportasi yang belum memuaskan, juga keadaan Jakarta yang rawan kriminalitas membuat seseorang lebih memilih mengendarai kendaraan pribadi ketimbang naik angkutan umum. Ditambah lagi wajah angkutan umum itu sendiri yang udah layak dialmarhumkan. Menambah alasan kuat kenapa banyak warga Jakarta memilih untuk mengendarai kendaraan sendiri. Seenggaknya kalo macet dengan mobil sendiri kan masih bisa nonton tv dalem mobil / masih dingin-dinginan pake ac mobil. Coba kalo macet lagi didalem bis, boro-boro nonton tv, yang ada bau ketek asem rasanya ada didepan idung. 

wajah jakarta malam hari

wajah jakarta saat musim mudik lebaran

Dari matahari terbit sampe bulan muncul warga Jakarta sudah terbiasa menghadapi kemacetan di Jakarta. Tapi percayalah 10 sampai 20 tahun mendatang kalau kondisi ini terus didiamkan mungkin Jakarta bisa menjadi kota mati dimana mobil ga bisa bergerak lagi dijalanan karna saking macetnya. Antara pemerintah Jakarta,pusat,juga masyarakat harus bisa bersinergi untuk ikut membangun Jakarta menjadi kota yang lebih rapih dan nyaman. Singapura yang luas wilayahnya tidak beda jauh dengan Jakarta menjadi salah satu negara dengan sistem transportasi juga lalu lintas yang baik. Memang membandingkan Jakarta dengan penduduk yang seabrek dengan singapura bukan perbandingan yang baik. BUT, mereka bisa kenapa kita ga bisa ? Dengan usaha yang maksimal dan dukungan dari manapun itu, entah dari masyarakat, perusahaan otomotif, pemerintah, aparat pemerintah, dan pihak-pihak terkait tidak menutu[ kemungkinan Ibukota kita tercintah ini bisa menjadi seperti singapura. Dengan kesadaran diri masing-masing masyarakatnya, juga dengan upaya pemerintah menciptakan sistem transportasi yang terpadu, pembangunan infrastruktur, penertiban lalu lintas, penerapan pajak yang besar untuk kepemilikan kendaraan ganda, peremajaan alat-alat transportasi, dan langkah-langkah jeli lainnya niscaya ibukota kita akan menjadi kota yang nyaman dengan tingkat kriminalitas yang kecil. Oh ya ada yang ketinggalan, urbanisasi yang overdosis. Coba deh perhatiin kalo lagi musim mudik lebaran Jakarta sepinya kaya apa ? Itu mau gelar tiker tidur ditengah jalan juga ga bakal ada yang ngomelin saking ga banyak kendaraan yang wara-wiri. Ini menandakan laju urbanisasi yang udah overdosis. Naaaah, untuk mengatasi ini peran pemerintah pusat dan pemerintah-pemerintah daerah lainnya diharapkan dapat ekstra membenahi wilayahnya masing-masing. Sehingga warga-warga desa lainnya bisa tetap stay didaerahnya dan mendapatkan penghidupan yang layak. Teori memang mudah, berangkat dari teori dan dengan usaha yang maksimal, predikat ibukota yang bersih,aman,tentram dan damai mungkin bisa diraih oleh Jakarta. Jakarte kite tanggung jawab kite.. 

Dengan pemilihan gubernur DKI Jakarta nanti, diharapkan gubernur terpilih bisa menyelesaikan masalah klasik ini dan membenahi Jakarta dengan segala carut marutnya. Saya sebagai warga pinggiran yang mayoritas kegiatannya berada di Jakarta sudah lelah pa dengan kemacetan yang saya temui dari mulai keluar dari kandungan *eh *ini apa sih. Jangan hanya mengumbar janji dan memberikan beberapa lembar rupiah untuk membeli suara warga, tapi buktikan bahwa kalian pantas untuk memimpin Jakarta. Dengan APBD sebesar kurang lebih Rp. 36 triliun, kami percaya modal itu cukup untuk membenahi Jakarte kite. 


Share on Google Plus

21 comments :

  1. Apalagi dijaman millenium ini beredar paham gak punya mobil gak gahol di jakarta sono + Menurut gw di jakarta angkutan umum udah identik dengan kumuh (contoh bis kota) jadi orang orang merasa gak nyaman. Mungkin kalo semua angkutan umum diperbaiki kenyamanannya bakalan mengurangi kemacetan (ex: Bis kota dijadin kaya Busway kebersihannya) CMIIW

    ReplyDelete
    Replies
    1. thats right juni !! dg sinergi antara pemerintah pusat,kota,daerah juga masyarakat, masalah2 klasik macam kemacetan mungkin bisa teratasi.

      Delete
  2. wah, salut ama posnya...moga banyak warge jakarte yang baca post ini ye ^^

    ReplyDelete
  3. kebanyakan kan pada ingkar janji setelah kepilih, mungkin karena sulit juga merealisasikan nya, kayak orang yang udah pedekate tapi ga jadi nembak *eh ini apa*

    maksudmu ini >> "dan banyak mereka fakir asmara yang masih terlantarkan hatinya dipinggiran jalan kehidupan"
    itu menandakan semakin banyak kepadatan penduduk dan macetnya jakart disebabkan olehj fakir asmara juga, non? XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. HEEEEEEEH !!!!!! enaaaak ajaaaaaa disebabkan oleh fakir asmara :p

      Delete
  4. Kalau menurut gw bukan sekedar mati, tapi jadi lautan beton, gersang dan ngga ada kehidupan <......... itu sama haha,.

    ReplyDelete
  5. bukannya hampir setiap kota besar di Indonesia juga mengalami masalah klasik ini yah ? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. engga setiap kota besar juga. coba liat jogja,dia kota besar di jawa tengah kan ?

      Delete
  6. mobil semakin bertambah dan infrastruktur jalan tidak bertambah.
    saya skeptis pada semua calon gubernur, mereka lebih sibuk melakukan pencitraan dari pada melakukan tindakan nyata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mudah2an gubernur terpilih nanti bisa membawa ibukota ke arah yg lebih baik lagi ya

      Delete
  7. ampun deh pokoknya klo disuruh tgl di jekate T.T
    blm siap mental :((

    tgl di Bdg udah urut dada tiap hari ><

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi aku suka dibandung. segaknya udaranya is better than here :)

      Delete
  8. macet tidak akan bisa dihindari bahkan dihilangkan dari jakarta,karena jakarta pusat perputaran uang di Indonesia sehingga banyak dari semua orang didaerah berbondong kesini dengan sejuta harapan & impian

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kan udah ditekanin juga harus ada sinergi dari mana-mana biar urbanisasi bisa ditekan

      Delete
  9. cara yang paling jitu adalah. pindahin aktivitas jakarta ke daerah daerah lain nya. jadi ngak disana semua. numpuk pusing ahhhh.

    mending tinggal di daerah ajah.

    ReplyDelete
  10. doh macet tuh emang paling parah, masa ke sekolah aja jarak dari rumah 6 km kalo naik motor cuma 15 menit naik angkot bisa minimal 45 menit?! *emosi*

    ReplyDelete
  11. Kalau satu individu di Jakarta memiliki satu mobil kemacetan tidak dapat dihindari lagi, mau sebagus apapun infrastruktur yang dibagun negara (pemerintah) untuk menanggulanginya tetap saja sulit kalau dari rakyatnya sendiri tidak ada niatan untuk mengurangi mobil (minimal hanya untuk orang tua /bapak bekerja, sementara anak-anaknya dididik untuk lebih menghargai uang dengan cara "memaksa" mereka menggunakan kendaraan umum dibanding dibelikan kendaraan (mobil) pribadi).

    CMIIW

    ReplyDelete