keramahtamahan orang Indonesia

11:38 PM

Indonesia dengan sejuta pesona keindahan alam didalamnya memiliki banyak daya tarik bagi wisatawan asing maupun domestik. Irian Jaya dengan raja ampatnya, Bali dengan kuta nya, Jogja dengan keberadaan candi-candinya, dan mungkin Jakarta dengan kemacetannya. Daya tarik tersebut yang membuat Indonesia dikenal oleh warga negara asing. Baik dari sisi baik maupun buruknya. Sisi baik ya mungkin dari segi keindahan alamnya didaerah timur kesana, dan sisi buruknya apalagi kalo bukan dari wajah ibukota. Selain dari sisi keindahan alamnya yang fantastis, keramahtamahan orang Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang membuat turis-turis "betah" untuk berlibur lebih lama di Indonesia. Tidak seperti berwisata di Amerika dimana setiap orang tidak terlalu perduli dengan keberadaan orang lain yang berbeda dari mereka, orang-orang Indonesia memiliki keramahtamahan yang bisa dibilang memiliki nilai 8 dari 1 sampai 10. Tidak sedikit orang-orang Indonesia yang menyapa bule-bule yang sedang berwisata di Indonesia dan kadang sebagian dari mereka malah mengajak foto bareng sekalipun itu hanya turis asing biasa yang mungkin koceknya hanya berbekal US $300-$400. Kebanyakan dari orang Indonesia melihat turis-turis mancanegara ini atau biasa kita kenal dengan sebutan bule, adalah salah satu manusia yang jarang ditemukan di Indonesia. Dengan postur tubuh tinggi menjulang, hidup mancung hampir patah, bola mata dengan warna berbeda, kulit putih yang jauh berbeda dengan saomatangnya orang Indonesia, menjadi satu hal yang orang Indonesia kagumi terhadap bule-bule ini. Walaupun di negara mereka, mereka itu biasa saja. Tapi di mata orang Indonesia, bule-bule tidak ada yang jelek. Alias tampan-tampan dan cantik-cantik. Karna itu kadang banyak orang Indonesia yang tidak mengalihkan pandangan dan senyuman dari paras-paras lumayan turis-turis mancanegara ini. 


Terlepas dari itu semua, orang Indonesia dikenal dunia dengan keramahtamahannya. Dimasa lalu mungkin disaat Indonesia masih menjadi sentra perdagangan rempah-rempah di selat malaka dan sekitarnya, melalui jalur sutra maupun jalur laut, keramahtamahan orang Indonesia sudah menjadi hal yang biasa dalam kegiatan perdagangan. Itu masih mungkin loh. Karna saya waktu itu belum lahir. Tapi keramahtamahan orang Indonesia sudah terkenal sejak dulu. Mungkin sejak Jakarta masih berbentuk batavia, atau Jogjakarta saat masih menjadi ibukota dulu. 

Keramahtamahan yang menjadi ciri khas orang-orang Indonesia itu perlahan-lahan hilang seiring berkembangnya zaman dan globalisasi yang gencar. Wajah-wajah berseri-seri saat berinteraksi dengan warga Indonesia lain sudah tidak sesering dulu kita temukan. Everything change during the time. Sekarang saya sudah tidak bisa melihat keramahtamahan itu ada didalam diri orang Indonesia berdasarkan hal-hal yang terjadi disekitar saya. Tidak perlu saat berinteraksi dengan warga negara lain, dengan orang Indonesia itu sendiri mereka sudah tidak menunjukan keramahtamahan yang dulu dielu-elukan dari orang-orang Indonesia. Mengapa berpendapat begitu,jeng ?

Kita sudah biasa mendapat pelayanan / service yang buruk dari para pelayan toko, mini market, fasilitas umum, restaurant, pom bensin, atau tempat-tempat lainnya yang sering kita kunjungi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak jarang pelayanan dari mereka itu tidak memuaskan. Sebut saja pelayan toko, kadang jika pembelinya hanya seorang anak kecil pelayan toko tersebut seperti ogah-ogahan untuk melayani anak kecil yang hanya sekedar membeli chiki seharga Rp. 1000 atau membeli permen yang harganya hanya Rp. 500. Mungkin karna anak-anak adalah sejenis spesies yang belum mengerti apa arti dari pelayanan yang baik, atau memang mereka tidak mengerti sedang diperlakukan dengan buruk. Sering saya melihat anak-anak tidak dilayani dengan baik jika mereka berbelanja sendiri. Pernah sesekali adik saya berbelanja kesalah satu mini market ternama, dia berbelanja seperti biasa, membawa keranjang dan membeli beberapa macam makanan ringan, dan dia mengantri seperti biasa saat ingin membayar dikasir. Saat mengantri, antriannya disodok orang dewasa lainnya. Kasir yang pada saat itu pasti mlotot melihat adik saya sudah mengantri lebih dulu bukannya mempersilahkan adik saya untuk membayar terlebih dahulu tapi malah melayani orang dewasa tersebut. Ayah saya yang sedang memperhatikan dari luar mini market sontak kaget dan langsung masuk kedalam meninggalkan keranjang belanjaan dan mengajak adik saya keluar dari mini market itu. 


Selain anak kecil, mungkin tidak sedikit juga orang dewasa yang mendapat pelayanan yang buruk dari para karyawan / pelayan toko/ sejenisnya. Wajah jutek, menjawab pertanyaan sekenanya, serta melayani dengan ogah-ogahan mudah ditemukan jika kita berbelanja di mini market / hanya toko kecil biasa sejenisnya. Tidak jauh dari rumah saya, ada supermarket milik pribadi (pemiliknya adalah orang china) yang pelayan-pelayannya tidak ada yang memiliki standar keramahtamahannya orang Indonesia. Mungkin mereka harus diospek terlebih dahulu oleh pramugari-pramugari garuda Indonesia. Sudah lebih dari beberapa bulan saya berhenti berbelanja disupermarket yang faktanya harga-harganya itu jauh lebih mahal dari mini market sekelas alfa mart. Para karyawan supermarket tersebut mungkin mendapat gaji yang kecil dan harus berkerja lembur sampai mereka tidak perduli bagaimana penilaian konsumen dan bagaimana dampaknya bagi supermarket itu sendiri jika mereka memberikan pelayanan yang buruk bagi konsumen.

Selain toko, mini / supermarket, dan sejenisnya, tidak sedikit juga kita mendapat pelayanan buruk dari penyedia fasilitas umum bagi masyarakat. Sebut saja rumah sakit. Bagaimana menurut kalian pelayanan di rumah sakit swasta dengan rumah sakit milik pemerintah ? Jauh berbeda kan ? Rumah sakit swasta dimana uang yang berbicara banyak memberikan pelayanan terbaik mereka. Apalagi rumah sakit-rumah sakit sekelas Harapan Kita. Pelayanan yang baik menentukan eksistensi dari rumah sakit tersebut. Bagaimana dengan milik pemerintah ? Salah sebuah rumah sakit milik pemerintah yang berada dijakarta selatan, merupakan rumah sakit besar. Tidak jarang para artis dengan alasan darurat terpaksa ke rumah sakit tersebut. Misalnya Alm. Adjie Massaid yang saat sekarat dilarikan kerumah sakit tersebut. Dan asal tahu saja, ternyata pelayanan dari rumah sakit tersebut benar-benar jauh dari kata memuaskan. Para perawatnya seperti para perawat korban perang yang berkerja secara sukarela. Melakukan tugasnya serabutan, dan tidak memberikan pelayanan yang ramah bagi para pasien. Salah satu teman dekat saya pernah mengalami pengalaman buruk di rumah sakit tersebut, waktu itu ibunya akan melahirkan adik keduanya. Teman saya yang sudah teriak-teriak bahwa ibunya sudah pembukaan kesekian masih didiamkan oleh para dokter dan perawat. Dan akhirnya saat kepala si jabang bayi mulai terlihat menonjol sedikit barulah para dokter dan perawat kelabakan. Sepertinya pelayanan didukun beranak terlihat lebih baik kalau melihat kelakuan mereka seperti ini. Selain rumah sakit, yang kedua mungkin pelayanan pada elemen pemerintah. Misalnya kelurahan, tidak sedikit dari masyarakat yang memberikan uang lebih kepada RT untuk mengurusi KTP mereka dan mereka terima jadi ketimbang mengurusnya di kelurahan. Alur yang rumit, serta waktu yang diulur-ulur, juga pelayanan sekenanya, menjadi alasan bagi masayarakat untuk tidak membuat ktp sendiri di kelurahan. Ini kan sudah jadi tugas mereka, sekalipun gaji mereka kecil sudah jadi amanah bagi mereka untuk melayani warga masyarakatnya kan ? Mengapa untuk hal identitas saja mereka masih mempersulit warganya dan tidak memberikan pelayanan terbaik mereka. Mereka duduk disana kan sebagai pelayan masyarakat ya. 

Sebagai orang Indonesia kadang saya merasa malu dengan negara kecil sekelas Singapura. Singapura adalah salah satu negara kecil yang maju dengan sumber daya alam yang tidak sebanyak Indonesia. Pelayanan mereka saya acungkan jempol. Sepupu saya yang masih kecil saat berada disana tidak takut untuk jajan sendirian sekalipun bermodalkan bahasa tarzan. Pernah sesekali orang tuanya melepas dia sendiri untuk membeli kentang goreng di Mcd. Uang yang dibawa bukan uang mainan, tapi dia memang diberikan uang sen dengan pecahan-pecahan yang banyak dan jumlahnya juga seperti baru pecah celengan ayam. Waktu dia membeli kentang dia hanya "mengaur" recehan sen nya dimeja kasir. Dengan sabar mba-mba kasir memilah-milah jumlah yang harus dibayar oleh sepupu saya itu. Ditambah lagi dengan pelayanan bonusnya kalo dalam bahasa Indonesia mba nya bilang "ade mau beli apalagi selain kentang goreng?",dan sepupu saya dengan lantang menjawab "No,Thanks SIR"(?????). 

Keramahtamahan orang Indonesia harus kita kembalikan. Tidak perlu memulai dari orang lain cukup mulai dari diri sendiri dengan bersikap ramah terhadap sesama. Dengan bersikap ramah terhadap sesama, tentunya akan berdampak terhadap sekitar kita. Dimana feedback adalah hukum alam yang akan berjalan. Keramahtamahan orang Indonesia harus kita kembalikan. Tidak perlu dengan mencaci maki pelayan-pelayan restaurant yang memberikan pelayanan buruk, perawat-perawat yang tidak telaten, atau penjaga toko yang jutek. Cukup dengan biasakan mengucapkan terima kasih diiringi senyum sudah mencontohkan keramahtamahan kepada sang pelayan, penjaga, atau perawat. Setidaknya mereka malu kepada diri mereka sendiri. Mereka telah memberikan pelayanan yang tidak memuaskan tapi kita tetap mengucapkan terima kasih dan legowo memberikan senyuman. Ya, seperti kata Aa Gym. 3M : Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil-kecil, dan Mulai SEKARANG.. 



Sumber Gambar :

You Might Also Like

13 comments

  1. mari mulai dari diri sendiri. kata "makasih" sama "maaf" emang ga bayar buat ngucapinnya. tapi itu juga bisa jadi salah satu faktor yang nunjukin keramahan seseorang.
    kalau masalah nyerobot antrean gue juga suka kesel, apalagi kalau du halte busway. -___-
    ohya, saran aja. kayaknya bakalan lebih enak bacanya kalau beberapa paragraf di atas dipecah lagi ke dalam beberapa paragraf. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aje gileeeee itu kalo busway gue juga emosinya udah ampe ubun-ubuuun ituuuu

      Delete
  2. Setujuuu banget! Sekarang banyak banget pelayanan yg gak memuaskan, bahkan bisa dibilang buruk. :(
    Blognya keren banget nih, postingannya juga bermanfaat. =))
    Aku Vinny yg dari FB, aku panggilnya Nonni aja? :)
    Kalau mau saling follow blog atau tukeran banner, kasi tau yaah! ;))
    Sukses ngeblog dan salam blogger! ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal jugaa dan salam bloggeeeeer :)

      Delete
  3. sekarang bahkan banyak di salah gunakan mas ya.. bahkan mendadak lenyap di berbagai daerah.. (daerah konflik)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mas ? itu nama aku aja nonni shetya masa dipanggil mas ?

      Delete
  4. Benar sekali mbak untuk mengembalikan keramahtamahan memang harus dimulai dari pribadi kita
    semoga masih ada sisa keramahan dari diri kita ini..
    salam kenal...

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga tanteee tapi jangan panggil aku mbak, aku bukan mba-mba spg susu dancow hehee

      Delete
  5. banyak masalah untuk mengembalikan keramahan bagi orang yang merasa sebagai orang
    Indonesia.Sekarang ini orang akan bangga jika bisa keluar negeri padahal semua pasti tahu jika alam Indonesia lebih indah dibandingkan dengan luar dan orang luar sendiri juga mengakui jika orang Indonesia itu ramahtamah.
    Saya sangat setuju untuk mengembalikan keramahan Indonesia bisa kita mulai dari pribadi kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah iya beneeer itu bang, kadang orang2 kita lebih seneng liburan keluar negri ketimbang nikmatin surga dunianya di indonesia.

      Delete
  6. Yups.. Gue setuju sama kamu.
    Indonesia memang ramah, tapi bisa ilang kalo anak muda mulai niru2 budaya luar. sekarang kan musim tuh tiru2 orang luar gitu. yang gue takutin itu sih. :|

    ReplyDelete
  7. Sebenernya timbal balik loh mba, terkadang pelanggan juga agak rewel, dan maklum, bayangkan jika kita menjadi mereka yang harus melayani orang seharian :D nice posting :)

    ReplyDelete