tradisi malam mangkat betawi

Indonesia dengan segala keindahan alam, budaya, tradisi, makanan khas, baju daerah, bahasa daerah yang mencapai 700 bahasa, dan masih banyak lagi yang tersimpan di negeri yang kaya ini. Beragam suku bangsa dan bahasa daerah, Indonesia disatukan dengan satu bahasa, yakni Bahasa Indonesia. Suatu hal yang banyak memberi tahu kita bagaimana sulitnya mempersatukan bangsa ini dengan Bahasa. Sekian banyak suku bangsa, masyarakat pun masih memegang tradisi budaya masing-masing daerahnya. Jawa dengan serentetan upacara pernikahan, Bali dengan tradisi ngaben, dan masih banyak lagi. 

Salah satu tradisi yang selama ini dekat dengan kehidupan kita, orang Jakarta, adalah tradisi malam mangkat betawi. Bagi kalian yang tinggal di daerah yang seluruhnya adalah orang betawi, hal ini menjadi hal yang biasa di lihat setiap menjelang pernikahan. Mungkin perbedaannya sedikit dengan tradisi-tradisi menjelang pernikahan dari suku lain, seperti jawa contohnya. Mereka juga memiliki tradisi malam mangkat seperti suku betawi ini. Tinggal di lingkungan yang mayoritas suku betawi membuat saya salut dengan ikatan silaturahmi yang mereka jalani. Berdarah Jawa Betawi, Ayah dari Jawa Tengah dan Ibu yang betawi asli, membuat saya menjalani tradisi dari dua suku yang berbeda ketika menjelang pernikahan sanak saudara, atau tetangga. Sangat mengasyikan. 

Tradisi malam mangkat betawi ini, merupakan tradisi yang masih sangat dijaga dan sudah menjadi kebiasaan bagi mereka, orang betawi, setiap menjelang pernikahan. Satu hari sebelum pesta pernikahan, malamnya si empunya hajat mengadakan semacam syukuran. Tenda-tenda yang terpasang sebelum hari pesta pernikahan pun malamnya dipenuhi para tetangga yang berdatangan berbondong-bondong membawa 'tentengan' (khususnya para wanita / ibu-ibu). Banyak dari mereka membawa beras, mie telor, kue-kue kering maupun basah, bahan makanan pokok, dan masih banyak lagi. Hal ini menjadi tambahan jamuan bagi empunya hajat, karena persediaan jamuan mereka menjadi berlimpah. Oh ya sebelum lebih jauh bercerita tentang malam mangkat betawi ini, tradisi ini masih kental dilakukan bagi mereka suku betawi yang tinggal di perkampungan. Mungkin mereka (orang betawi) yang tinggal dikota dan sudah menjalani kehidupan modern sudah tidak menjalani tradisi malam mangkat ini. 

Biasanya, para wanita / ibu-ibu yang membawa tentengan ini, menggunakan 'baskom' untuk meletakan bawaan mereka, dan membungkusnya dengan taplak meja. Tentu tidak, mereka tidak membawa baskom kosong setelah mendatangi malam syukuran si empunya hajat, pemilik rumah membalas bawaan mereka dengan mengisi baskom mereka dengan nasi, lauk pauk, dan kue-kue basah masakan dapur si empunya hajat. Menarik bukan ? Dari tradisi ini kita belajar "give and take". Bukan memberi dengan mendapatkan balasan dari yang diberikan, tapi pelajaran give and take ini memang suatu pelajaran hidup yang patut kita kerjakan. Berawal dari suatu tradisi, kita belajar bagaimana diberikan oleh orang lain dan kita harus membalas kebaikannya. Bukan air susu dibalas air tuba. Menurut saya sih seperti itu. Entah apa yang bisa teman-teman pembaca ambil dari ilmu give and take ini.

Selanjutnya, malam mangkat betawi ini, si empunya hajat juga mengadakan syukuran sederhana, agar akad pernikahan esok hari yang akan dilaksanakan sampai pesta pernikahan, berjalan sesuai rencana dan tidak ada halangan. Tapi tunggu dulu, syukuran ini tidak hanya dilakukan menjelang acara pernikahan, bahkan beberapa hari atau satu minggu setelah acara pernikahan, si empunya hajat mengadakan syukuran (biasanya dalam bentuk pengajian ibu-ibu) sebagai bentuk syukur atas rezeki yang telah diberikan Allah SWT. Nah, pelajaran lain lagi yang kita dapat dari tradisi betawi ini adalah bagaimana kita sebagai manusia harus selalu bersyukur atas nikmat Tuhan yang berlimpah. 


Selain malam mangkat yang dimiliki oleh suku betawi, suku jawa pun begitu. Entah daerah lain seperti apa, daerah tempat Ayah saya lahir, mereka bahkan mengadakan tradisi malam mangkat seminggu menjelang pesta pernikahan. Berbeda dengan betawi, para tetangga membawa hasil sawah dan ladang mereka, berupa beras, jagung, dan bahan-bahan lain yang berlimpah ruah. Bahkan ketika saya balik selesai acara pernikahan saudara di tanah jawa, saya membawa hampir satu karung bahan sembako, atau hasil ladang yang berlebih yang diterima si empunya hajatan. Tradisi yang berbeda tipis dengan tradisi malam mangkat betawi ini. 

Dari segian ribu kepulauan yang ada di Indonesia, masih banyak tradisi unik yang masih dijalani oleh masyarakat Indonesia dari berbagai suku. Tradisi dalam pernikahan, kematian, kelahiran, dan masih banyak lagi yang dimiliki suku-suku bangsa ini. Begitu kaya tradisi kita sehingga banyak pelajaran atau makna yang bisa kita ambil dari setiap tradisi ini. Bagaimana dengan tradisi daerahmu ??






Sumber Gambar :
http://salazad.deviantart.com/art/Ondel-Ondel-Betawi-199914641
http://alikakhanza.blogspot.com/2013/01/pernikahan-adat-betawi.html
http://syaimasya.wordpress.com/2010/05/06/prosesi-palang-pintu-dalam-pernikahan-betawi/
Share on Google Plus

8 comments :

  1. Unik yah tradisinya :D Beda banget sama di Sulawesi Selatan (khususnya Bugis Makassar).

    ReplyDelete
  2. penasaran banget sama roti buaya kak, rasanya kayak apa sih?

    ReplyDelete
  3. kalau tradisi Solo, aku kurang tahu persis, sebelum mengalami hal tsb langsung

    ReplyDelete
  4. wiii serunya tradisi malam mangkat!
    kadang, tradisi lokal justru lebih banyak ngajarin nilai-nilai kehidupan ya disamping kerempongannya :')

    ReplyDelete
  5. Dari dulu sampai sekarang, gw pengen banget makan roti buaya! Gimana sih rasanya!! huehue.. pengen nyaksiin langsung juga tuh yang silat betawi itu..

    ReplyDelete
  6. Aku orang betawi, aku bangga jadi orang betawi. Tapi kadang kalau ngomong enggak diganti jadi 'ora' di rumah suka dimarahin. :'))

    Dan inget, sebagus apapun nama orang betawi tetep bakal dipanggil 'tong' atau 'neng' :'))

    ReplyDelete
  7. sekarang di jakarta, daerah mana ya yg masih banyak bgt org betawi nye ??

    ReplyDelete
  8. jadi inget masa masa ketika masih di jakarta,,
    memang asyik liat ne acara,,
    tpi sekarang masih ada kah,,

    ReplyDelete