hikmah ramadhan : selalu bersyukur

10:27 PM

Ramadhan tahun ini merupakan ramadhan yang penuh berkah, kebaikan, pelajaran berarti, dan apapun itu yang disebut sebagai hikmah yang dapat diambil di setiap bulan baik. Sebelumnya, saya selalu menghabiskan Ramadhan dengan segudang kegiatan, bukan bukan, maksudnya menghabiskan kegiatan di gudang, macam artis aja kegiatannya segudang. Ramadhan kali ini saya habiskan dengan menguji kemampuan bisnis bersama teman-teman pengusaha muda kampus saya. Berbekal bisnis @chabelita_shop yang alhamdulillah sudah mulai dikenal teman-teman kampus, saya dan empat teman saya mencoba berbisnis di pasar Ramadhan yang diadakan oleh DKM sebuah mesjid di salah satu perumahan elit yang berada di kawasan pamulang, tangerang selatan. Saya tidak akan panjang lebar menulis bagaimana perjalanan dagang kami di pasar Ramadhan tersebut, karna yang panjang lebar itu biasanya cuma pidato presiden kalau lagi curhat naik gaji. Singkat cerita, satu bulan kami menggantungkan target omzet dalam satu bulan, berbekal hitungan ala mahasiswa ekonomi dan berbekal resiko kerugian ala pengusaha tekstil yang kalau barangnya tidak habis ya tidak basi seperti masa lalu, kami mencoba menguji kemampuan bisnis kami untuk menjual takjil di pasar Ramadhan tersebut. Dan ya, ternyata teori tidak semudah prakteknya. Manisnya hidup kita yang tentukan, loh ini kenapa jadi iklan. Teori yang kita pelajari di kampus soal menjadi pengusaha, juga berbekal pengalaman bisnis di bidang pakaian ternyata jauh berbeda dengan berbisnis makanan di pasar Ramadhan tersebut. Tapi satu yang saya pahami tentang kegiatan berdagang kami, ternyata ketika kita bersyukur nikmatnya dan manisnya hidup memang lebih terasa. 

Kami bukan mahasiswa yang irit, empat dari kami suka jajan. Selama berdagang di pasar Ramadhan tersebut saya dan tiga teman saya seringkali mengeluarkan uang empat sampai tujuh ribu untuk jajan takjil lainnya dari pedagang tetangga. Bisa dihitung sendiri, dikalikan 28 hari kami berdagang, untuk ukuran pengeluaran seorang pedagang itu sudah termasuk besar loh. Tapi, ternyata pedagang yang sebenarnya tidak seperti itu. Saya memperhatikan sekitar, pedagang-pedagang sekitar, yang memang dituntut untuk mencari nafkah bagi keluarganya, mereka sangat perhitungan dalam hal mengeluarkan uang. Dengan kata lain mereka memakai konsep 'prihatin' dalam hari-hari berdagang mereka. Sangat berbeda dengan kita mahasiswa sok berani yang selalu jajan takjil padahal kadang dagangan sendiri belum habis. Hal lain yang saya pelajari selama Ramadhan tahun ini, ternyata mencari uang sesulit ini. Saya yang biasanya hanya meminta jatah bulanan kepada kedua orang tua saya, mulai mengerti bagaimana mereka mencari uang. Bisnis pakaian tidak terlalu semenakutkan itu. Tapi selama kami berdagang di pasar Ramadhan tersebut, saya mempelajari banyak hal dan mulai merubah kebiasaan saya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Branded stuff :
Kalau saya bilang saya cinta produk lokal, ya. Tapi produk lokal yang juga mempunyai nama di kancah nasional. Dan beberapa dari produk lokal tersebut juga 'lumayan' harganya. Selama ini saya selalu memikirkan harga = kualitas. Tanpa memikirkan 'ternyata uang lebih nya masih bisa digunakan untuk kebutuhan yang lain'. Ya, hikmah ramadhan yang saya dapatkan selama berdagang adalah, menghargai uang jauh lebih sulit dan menghargai uang ialah bukan hanya dengan cara menjaganya didalam dompet dalam tatanan yang rapih (FYI, saya tidak pernah mau menerima uang rongsokan selama pecahannya masih dibawah 20 ribu. walaupun itu 10rb dan sangat amat lusuh, saya akan dengan senang hati membuangnya), namun menghargai uang adalah dengan menggunakannya sebaik-baiknya dan sebijaksana mungkin. Saya mulai berpikir dua kali untuk membeli sepasang sepatu seharga 300 ribuan di salah satu pengusaha lokal ternama. Saya mulai berpikir dua kali untuk berbelanja di mall besar yang harganya dua kali lipat lebih mahal. Dan alhasil, kebutuhan idul fitri saya tahun ini ternyata tidak menguras kantong. 

Ketika midnight sale dimana-mana, beberapa teman selalu mengabari. Mereka berbondong-bondong mendatangi mall-mall yang ada di jakarta dan sekitarnya. Membeli beberapa pasang sepatu seperti orang kalap. Dan yang saya  pikirkan, saya bisa dapat 4 pasang sepatu murah meriah dengan hasil belanja diskonan yang bikin orang kalap seperti itu. Intinya saya lebih banyak berpikir panjang untuk mengeluarkan uang sekarang. 

Selalu bersyukur :
Dan ternyata bersyukur adalah yang paling indah, karna dengan bersyukur Sang Maha Pencipta akan memberikan lebih bagi hamba-hambanya yang sabar dan rajin melihat ke bawah ketimbang keatas. Bersyukur masih diberi nikmat sehat sampai Ramadhan berakhir malam ini, bersyukur karna masih bisa merasakan sepatu baru di idul fitri besok, dan bersyukur karna ayah bunda masih mau merawat kita sampai sebesar ini ternyata jauh lebih indah ketimbang saya mengeluh karna pacar tak kunjung datang. 

Dan, dengan bersyukur kita dapat melihat lebih luas, berkaca lebih sering, atau merunduk lebih dalam karna kita masih menjadi orang-orang yang mengeluh atas keadaan. Padahal diluar sana, masih banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung ketimbang kita disini. 

Selamat Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakannya, mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan selama ini. Atas segala tulisan yang menohok hati atau menyinggung hati teman-teman. Semoga kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan. Amin. 


You Might Also Like

4 comments

  1. alhamdulillah puasa kali ini lancar. smoga taun dpn lebih baik lagi :))

    ReplyDelete

  2. happy eid mubarak.. mohon maaf lahir dan batin

    ReplyDelete
  3. cintai produk lokal, memang tagline yang bagus dan nasionalisme, tp kalau tidak di dukung dengan kualitas dan kuantitas dr produk yg kita tawarkan, sama aja kaya nipu costumer dengan tagline. Jadi, intinya, produk yang bagus tp mahal akan berkembang, karena punya pasarnya tersendiri. Pengalaman, saya sih begitu :)
    Ouw iya, mohon maaf lahir dan batin ya, maaf kalau TIDAK ada salah selama ngeblog, hehehe

    ReplyDelete