KKN = Keluarga Kedua

Day 5 

Jika teman-teman mahasiswa baru sedang asik melengkapi berkas-berkas daftar ulang pendaftaran ulang universitas, mahasiswa tahun ketiga justru sedang asik dengan desa-desa KKN masing-masing. Kunjungan ke sana -sini, menganalisis dengan berbekal teori yang dipelajari di kampus, berlagak sok tahu untuk menyelesaikan permasalahan desa atau sekedar memberikan solusi atas permasalahan tersebut. Mungkin itu yang disebut pengabdian. Sesuai dengan salah satu Tri Dharma Universitas, yakni pengabdian ke masyarakat. Para mahasiswa sok tahu ini mencoba untuk mengabdi ke masyarakat, selain untuk melengkapi sks yang harus diambil, tentu sebagai wujud dari Tri Dharma Universitas. 

Termasuk saya, yang mendapat tempat di kawasan Tangerang, kecamatan Rajeg. Ternyata permasalahan desa tidak jauh-jauh dari sekitar pendidikan, ekonomi, dan sosial. Loh emang iya semuanya juga gitu ya? Ya mungkin setidaknya ada permasalahan baru , seperti asmara yang susah move on dari masa lalu. Ya namanya juga hidup, kadang untuk kedepan harus liat kebelakang terlebih dahulu. *FOKUS NON FOKUS*.

KKN, Kuliah Kerja Nyata yang dilakukan teman-teman kebanyakan ini punya seribu satu cerita yang ga akan habisnya diceritakan. Mulai dari kedatangan sampai hari kelima selalu ada cerita baru yang menggelitik tentang perilaku teman-teman KKN. Mulai dari mandi bareng (untuk yang perempuan) atau kelakuan-kelakuan lainnya yang membuat kita berkata "kok bisa yah?" atau "kok temen gue kaya gini sih". Kenapa keluarga kedua? Semuanya punya sebutan masing-masing. Yang paling bawel, yang paling ribet, yang paling protes, dan masih banyak lagi. Bunda, tante, bahkan mbo. Kenapa keluarga kedua? Semua saling melindungi satu sama lain, saling mengerti satu sama lain. Kenapa keluarga kedua? tinggal bersama dalam satu rumah bukannya sudah disebut keluarga ? Kalau setelahnya ada yang berniat berkeluarga setelah KKN sih lain lagi ceritanya. 

Hari ini kita sudah disibukkan dengan rutinitas pagi. Mengajar. Karna sebagai tuntutan rutinitas, bidang pendidikanlah yang paling tepat sebagai rutinitas kita setiap hari. Dan ternyata memang bidang pendidikan yang memang membutuhkan banyak perhatian lebih di masyarakat. Pengajaran pada Madrasah Ibtidayah setempat misalnya. Ternyata banyak membutuhkan pengajaran dengan metode-metode baru yang modern. Yang sudah kita dapatkan dikota jauh lebih lama, ternyata baru didapatkan oleh mereka yang ada di pedalaman. 

Satu yang saya pelajari, kita harus jauh lebih bersyukur lagi. Terlalu banyak mengeluh tidak akan merubah keadaan justru malah memperburuk keadaan. Dan diluar sana mereka jauh kurang beruntung dari kita. 

Mungkin hanya itu cerita KKN dihari kelima ini.. 


Share on Google Plus

3 comments :

  1. Duh gue suka ngebayangin aja kalo KKN itu seru susah seru susah. Ya begitulah proses hehe

    Sukses KakNon :D

    ReplyDelete
  2. jadi inget pengalaman waktu KKN, ternyata seru..

    waktu hari pertama rasanya sedih banget jauh dari rumah/kost, setelah akan berakhir berat rasanya meninggalkan lokasi KKN

    ReplyDelete
  3. seruu berbaur sama masyarakat, ngajarnya anak anak kecil yaa masih polos, kalau di kelasku kakak2 kkn nya suka dikerjain loh biar salting pas ngajar :p
    semoga lancar kkn-nya :))

    ReplyDelete