korupsi, bagian dari budaya bangsa?

7:53 PM



Ketika kita bicara soal kasus-kasus besar, seperti bank Century yang begitu lamban mencapai kata selesai dalam prosesnya, atau ketika kita bicara soal buronan kejagung pembobol Bank Bapindo, Edi Tansil, yang menyita waktu 2 tahun belakangan ini untuk melakukan ekstradisi ke Pemerintah China, yang seharusnya tak luput dari perhatian kita diantara kasus-kasus besar yang merugikan negara triliunan rupiah adalah korupsi yang kita lakukan sehari-hari. Dimana saat kita memberikan “jalan damai” ketika tertangkap polisi lalu lintas karena tidak mematuhi peraturan dalam berkendara, atau saat kita berjalan di “belakang” demi sebuah kartu resmi bertuliskan Surat Izin Mengemudi, atau ketika lebih mempercayakan calo saat kita berada di pengadilan negeri Jakarta untuk mengambil kembali Surat Izin Mengemudi yang tertahan karna kita melakukan pelanggaran lalu lintas. Apa hal tersebut tidak bisa dikatakan sebagai tindakan korupsi?
  
Korupsi yang telah mengakar tersebut semakin besar dan besar menjadi pohon budaya yang sangat mudah membobrokan moral bangsa dan tentunya memiskinkan bangsa ini. Korupsi bukan jadi hal yang baru bagi mereka yang berdiri di jajaran wakil rakyat, atau petinggi-petingga negara. Sejak orde lama,dikutip dari wikipedia, antara 1951 - 1956 isu korupsi mulai diangkat oleh koran lokan seperti Indonesia Raya yang dipandu Mochtar Llubis dan  Rosihan Anwar. Pemberitaan dugaan korupsi sudah sangat mengakar bahkan sejak pemerintahan Soekarno. Dan perlahan telah menjadi budaya dan kebiasaan bagi masyarakat kita, bukan hanya pejabat publik, politisi, dan pegawai negeri.
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Irjen Pol Pudji Hartanto mengatakan bahwa "Ini penyakit akut, harus kita amputasi. Kita amputasi dan kita lakukan perbaikan,". Korupsi sebagai penyakit akut adalah yang terburuk bagi sebuah negara. Irjen Pol Pudji Hartanto melanjutkan kasus korupsi yang sempat mencoreng citra institusinya perlu dibasmi dengan melakukan pembersihan secara menyeluruh. Pembersihan secara menyeluruh ini tentunya tidak hanya ditujukan pada pejabat publik, politisi maupun pegawai negeri, namun secara menyeluruh melakukan pembersihan sampai ke sendi-sendi masyarakat di level yang paling bawah sekalipun. Ketika korupsi sudah menjadi budaya dan penyakit, hendaknya kita yang selalu menonton kasus demi kasus yang ditangani KPK turut serta untuk melakukan pembersihan yang telah dipaparkan sebelumnya. Dengan menghentikan perilaku-perilaku kecil korupsi dalam kehidupan sehari-hari sedikit banyak menunjukan seberapa besar kita menumbuhkan integritas yang ada dalam diri kita. Sebagai masyarakat, tindakan nyata diperlukan untuk menghilangkan korupsi secara nyata dari jajaran budaya bangsa ini. Dengan begitu negara kaya ini akan mencapai kemakmuran secara seutuhnya.



Tulisan di atas merupakan bagian dari esay seleksi Sekolah Anti Korupsi Tangerang  Selatan
AWAS !! Tindakan plagiat merupakan bagian dari cyber crime. 


Sumber gambar :
http://acch.kpk.go.id/wallpaper-antikorupsi

You Might Also Like

6 comments

  1. iya sih. korupsi itu juga dimulai dari hal paling kecil. yang masih sering gua lakuin adalah korupsi waktu. harus diubah dari diri sendiri

    ReplyDelete
  2. Korupsi emang udah mendarah daging, hanya saja kita gak nyadar..
    Yang penting bagi kita (Generasi muda) adalah memulai dengan perubahan, yuk dimulai dari diri sendiri..

    ReplyDelete
  3. kurupsi mah udah dari jaman kerajaan kuno dulu sampe sekrang.. bisa dilihat kehancuran VOC gara-gara apa? korupsi kan..

    ReplyDelete
  4. Hi, I want to subscribe for this weblog to obtain latest updates, therefore where can i do it please help out.


    Also visit my web blog; selectiveglossa01.jux.com ()

    ReplyDelete
  5. Truly when someone doesn't know after that its up to other visitors that they will help, so
    here it happens.

    Look at my homepage one-pla.net - ,

    ReplyDelete