bebas bicara bebas berpendapat

Niat hati untuk melanjutkan bab selanjutnya dalam skripsi pun dipatahkan dengan menulis satu tulisan malam ini. Mudah-mudahan nanti niat mau nikah di masa depan engga dipatahkan dengan senyuman mantan di depan mata. Ya, tolong diabaikan. 

Indonesia, i'll die for you.. Ya, saya rela mati untuk Indonesia jika Belanda datang lagi ke negeri yang kaya akan segalanya ini. Tapi, mungkin ratusan orang di "senayan" sana tidak akan melakukan hal yang sama seperti apa yang saya dan kamu akan lakukan. Mereka sudah terlalu sibuk menghitung "koin" yang masuk ke pundi-pundi masa depan mereka, atau mereka sibuk menyapu "remah-remah roti" yang berserakan agar terlihat rapih. Mereka selalu sibuk, dibuat sibuk, menjadi sibuk, disibuk-sibukan, atau memang sibuk beneran. Ya, maksudnya sibuk menghitung koin tadi. Miris bukan? Mereka yang dulu berbondong-bondong membawa sejuta janji kepada rakyat kemudian berpura-pura gegar otak dan tidak mengingat apa yang sudah dijanjikan dulu. 

Ah sudahlah, Indonesia kita masih kaya. Masih beribu-ribu hektar lahan rakyat yang belum dihabiskan untuk pendapatan pemerintah. Eh sebentar, untuk pendapatan "mereka" atau pendapatan pemerintah?. Masih beribu-ribu orang yang belum dimiskinkan, masih beribu-ribu orang baik yang belum disingkirkan satu persatu. Jadi, Indonesia ku masih kaya dengan segala isinya. Masih banyak tantangan untuk menghabiskan Indonesia kita yang kaya ini, kawan. Jadi, jangan takut akan kekurangan orang-orang seperti itu. Mungkin kedepannya masih banyak yang akan memunculkan batang hidungnya, atau malah buntutnya terlebih dahulu. 


Tapi ternyata kita sudah mulai melek, kawan. Mereka sudah bisa membuka matanya. Bukan, bukan mereka yang disenayan. Tapi, mereka yang haknya dirampas demi kepentingan konco-konco kapitalis. Akhirnya mereka sadar, bahwa mereka bukan boneka yang bisa dimainkan dan diarahkan kesana kemari seenak hati. Mereka pada akhirnya mengetahui, meskipun terkadang yang diketahui dari kulit luarnya saja, yang jelas mereka sudah mulai kritis tentang apa yang mereka alami. Sudah mulai merasakan, berapa puluh juta uang mereka yang habis demi busuknya konco-konco itu. Akhirnya, ya pada akhirnya mereka membuka mata dan bersuara sesuka hati mereka untuk menuangkan kekesalan yang baru mereka rasakan. 

Jangan dilarang, kawan. Jangan dihina atas ketidaktahuan mereka tentang sesuatu yang mereka tangkap di media. Jangan dihina ketika mereka bersuara dengan kata-kata yang tidak patut diperdengarkan. Jangan dipojokan ketika mereka membuka mulut untuk sekedar berkomentar "sialan". Jangan dibodohkan dengan ratusan pemikiran idealis. Lepaskan mereka, lepaskan apa yang harus mereka keluarkan. Sebodoh apapun kata-kata yang keluar dari mulut mereka, merupakan bentuk ketidaksenangan, ketidakpuasan, kerugian, kesedihan,  serta kekecewaan akan kepercayaan yang telah mereka berikan pada orang-orang diatas sana. 

".......like they know the whole-damn-thing bout politics......."
Ya, mereka tau apa itu politik, kawan.. Kalau mereka buta, kekecewaan atas nama rakyat tidak akan ditumpahkan begitu saja. Setidaknya mereka tau apa yang telah direnggut dari mereka. Jangan dilarang, jangan dihina.. Mereka punya hak yang sama atas nama rakyat. 
Share on Google Plus

1 comments :