degradasi moral dan lingkaran kemiskinan

Pernah ga kalian memandang sebelah mata ke anak-anak muda seumur SMA yang keliling komplek naik motor kreditan bertiga dengan celana gemes sambil pegang gadget? Atau pernah ga kalian memandang sebelah mata ke anak-anak remaja khususnya lelaki yang naik motor bodong alias motor dengan onderdil yang ga lengkap atau knalpot super berisik? Kalo dipikir-pikir knalpot super berisik mereka itu mampu membuat nenek-nenek mengeluarkan kata-kata keramat semacam "eta dedemit!!!!". Pernah ga kalian memandang sebelah mata ke anak-anak seperti itu? 

Ketika teman-teman blogger mengisi kekosongan waktu dengan berkarya melalui tulisan, blogwalking, drop comment, ikut komunitas, kopdar sana sini, sebagian dari mereka sedang asing pamer paha di jalan raya. Tidak jarang kumpul-kumpul mereka diwarnai minuman beralkohol, narkotika dan semacamnya. Sex bebas terkadang sudah jadi cemilan sehari-hari mereka tanpa perlu memikirkan apa yang terjadi selanjutnya dan bagaimana masa depannya. Sekolah dijadikan sekadar formalitas saja untuk mendapatkan ijasah. Selebihnya pendidikan akademik dan non akademik seperti hanya mampir dipikiran mereka untuk kemudian pergi lagi melalang buana. Asal jangan gebetan yang cuma mampir untuk kemudian pergi lagi kehati yang lain. Pernah terpikir oleh kita siapa yang harus disalahkan dan siapa yang harus menyalahkan? Siapa yang bertanggung jawab atas mereka dan masa depan mereka? Siapa yang seharusnya memperbaiki mereka? Saya tidak bisa menjawab itu semua. Kalian bisa?  

Sesekali saya memandang sebelah mata bagi anak-anak muda yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk kesenangan sesaat tanpa ada unsur manfaat. Tapi kemudian berubah menjadi rasa kasihan, simpati, dan cemas kedepannya mereka akan seperti apa. Pernah ga kita kepikiran siapa yang membentuk mereka seperti itu? Orang tua? Pergaulan? Sekolah? Budaya luar?. Faktor ekonomi dan sosial yang membentuk anak-anak bangsa kita menjadi generasi rusak. Walaupun tidak semua anak-anak bangsa seperti itu, tapi sebagian dari mereka masih menjadi masalah pelik bagi bangsa ini. 

Dalam ilmu ekonomi, ada istilah lingkaran setan kemiskinan. Pendapatan nasional, pengangguran, dan variabel-variabel makro ekonomi lainnya menjadi pemeran utama penyebab kemiskinan. Tapi, supaya teman-teman bisa membacanya tanpa harus kebingungan, saya punya penjelasan lain lingkaran kemiskinan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Kenapa tidak sekolah, karena tidak punya biaya, kenapa tidak punya biaya, karna tidak mampu atau faktor ekonomi yang lemah, kenapa bisa tidak mampu, karna tidak memiliki pekerjaan yang cukup, kenapa tidak memiliki pekerjaan yang cukup, karna kurangnya pendidikan si orang tua. Dan apa yang terjadi? Kembali lagi ke masalah pendidikan. Itu yang disebut dengan lingkaran. Orang-orang yang berada pada tingkat ekonomi lemah fokus untuk mempertahankan hidupnya. Kadang pendidikan sosial tidak diterapkan karna yang terpenting adalah makan dan bertahan hidup. Berbeda dengan teman-teman yang pagi masih bisa sarapan enak, siang berangkat kuliah, malam tidur nyenyak setelah makan malam. Sesekali jalan-jalan ketika weekend tiba dan menghabiskan waktu bersama teman-teman dengan pergi ke shoping centre atau mall-mall. Tapi bagaimana dengan mereka yang perekonomiannya tidak mampu untuk itu? 

Mereka hanya mampu untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari untuk sekedar makan dan kebutuhan hidup lainnya secukupnya. Yang terjadi, kadang pendidikan non akademik tidak menjadi perhatian bagi para orang tua. Anak dilepas ke sekolah untuk mendapatkan pendidikan akademik. Dan selesai. Kewajiban orang tua selesai sampai disitu. Tidak bagi mereka yang mengerti pendidikan secara utuh. Kaum-kaum ekonomi menengah dan ekonomi atas saya asumsikan paham tentang pemberian pendidikan yang sebenarnya bagi anak-anak mereka. Bahwa pendidikan tidak hanya dari sekolah namun dari lingkungan keluarga juga lingkungan bermain. Meskipun banyak anak-anak yang berasal dari kelas ekonomi menengah dan atas yang juga terlibat dalam pergaulan bebas, mereka yang salah asuhan tidak akan saya bahas. Tapi, teman-teman yang berasal dari kelas ekonomi menengah dan mendapatkan pendidikan akademik dan non akademik yang akan saya bandingkan dengan mereka yang berada pada kelas ekonomi bawah. 
Pendidikan akademik tanpa pendidikan non akademik yang diberikan oleh para orang tua masih mendorong terjadinya degradasi moral bagi anak-anak bangsa. Apalagi yang tidak diberikan pendidikan akademik sama sekali. Dalam kamus bahasa indonesia degradasi merupakan kemunduran/kemerosotan/penurunan. Dan degradasi moral merupakan kemerosotan/penurunan moral. Bandingkan dengan anak-anak muda era 90-an atau era 80-an atau angkatan ayah-ibu kita. Bisa dibilang anak-anak muda pada jaman itu masih menjadi anak muda khas timur. Tidak seperti sekarang ini seiring dengan majunya perkembangan zaman, masuknya budaya asing, dan pertahanan individu-individu muda saat ini. Kemiskinan sangat berperan membentuk moral anak bangsa. Meskipun mereka yang miskin kadang jauh lebih baik dari si kaya, tapi persentase itu terlihat sedikit karna fenomena kenakalan remaja terlihat lebih banyak di permukaan. 

Degradasi moral anak-anak bangsa khususnya usia muda jadi masalah serius bagi bangsa ini. Sedikit mengutip lirik lagu Iwan Fals, "satu-satu tunas muda bersemi", namun seperti apa tunas muda yang bersemi di bangsa ini. Apa hanya tunas yang kemudian mati ditelan zaman atau tunas yang kemudian membesarkan bangsa ini? Dan apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki generasi bangsa ini? Okay, pernah dengar subsidi silang? Seperti halnya masuk perguruan tinggi negeri tertentu dimana mereka yang masuk melalui ujian tertentu membayar lebih besar ketimbang yang masuk melalui ujian snmptn atau ujian lainnya. Itu yang mungkin bisa saya jadikan solusi untuk tulisan kali ini. Kita yang memang mendapatkan pendidikan baik akademik maupun non akademik sepatutnya bergerak lebih cepat, bergerak lebih gesit, bergerak lebih baik, bergerak menjadi pribadi yang patut dijadikan contoh bagi generasi selanjutnya kelak. Setidaknya contoh bagi adik-adik kita dirumah agar satu atau dua individu di keluarga tercipta menjadi generasi penerus yang baik. Nah yang terjadi generasi-generasi yang tetap pada jalannya seperti inilah yang nantinya akan memperbaiki generasi-generasi yang rusak. Atau setidaknya menggantikan generasi yang rusak untuk membangun bangsa. 

"Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”
(Bung Karno) 

Indonesia masih punya harapan, bukan?
Share on Google Plus

4 comments :

  1. kadang miris juga sih melihat tingkah remaja sekarang. tapi gua pernah baca ungkapan, yang muda selalu mengejek yang tua, yang tua selalu menyalahkan yang muda. kayaknya itu benar sih.
    mari kita mulai perubahan dari diri sendiri

    ReplyDelete
  2. Postingan yang bagus. Semoga kita bisa melihat lebih jauh lagi. Mungkin kita juga ikut bertanggung jawab karena bisanya cuma mencibir, tidak mau terlibat membenahi :)

    ReplyDelete
  3. haduh judul dan tema blog ini hampir sama, ma'af yah tidak bermaksud plagiat. semoga dapat berjalan beriringan

    ReplyDelete
  4. Kalau aku sih simple mba, apa yang kita lakukan kecil ataupun besar. Kita pun juga yang akan menuai'a nanti.

    ReplyDelete