sekulerisme

Tahun ini jadi tahun politik bagi masyarakat Indonesia, tepatnya jadi tahun perang politik bagi sebagian politikus-politikus yang tersebar di berbagai daerah. Mulai dari pemilu legislatif, 9 Juli mendatang masyarakat Indonesia akan memilih calon pemimpin bangsa. Salah pilih pemimpin, nasib rakyat yang jadi taruhannya. Salah pilih pemimpin, uang rakyat yang dihabiskan. Apalagi salah pilih pasangan, nanti repot kedepannya. 

Kali ini saya sedang tidak ingin membahas soal politik atau para kandidat capres-cawapres Indonesia yang menurut saya sama-sama berkualitas. Dua-duanya baik, baik menurut pendukungnya masing-masing. Sekecil apapun kesalahan, ketika seseorang menjadi tim setia atau tim pendukung dibelakang capres-cawapres, sebisa mungkin mereka menutupi atau memplester kesalahan atau kekurangan dari capres-cawapres yang diusung. Dan saya sedang tidak ingin membahas kelebihan dan kekurangan masing-masing kandidat. Manusia tidak ada yang sempurna, namun sebagai calon pemimpin dia harus lah orang yang sempurna bukan? Tapi, kalo cari pasangan hidup cukup mencintai orang lain dengan sempurna. Kalau mencintai kesempurnaannya percayalah, suatu saat cinta itu akan hilang. Eh maap salah fokus. 

Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk dengan pemeluk agama islam terbesar. Maka tidak jarang isu agama diangkat ke daratan bagi oknum-oknum tertentu sebagai bumbu-bumbu peperangan politik untuk menjatuhkan lawan politik. Entah karna calon pemimpinnya itu mualaf, atau isu-isu agama lainnya yang kadang diangkat ke publik hanya berdasarkan opini seseorang. Opini dari teman dekat, opini dari keluarga, opini dari sahabat, atau opini yang terbentuk di masyarakat. Dan tidak jarang opini-opini yang dibentuk sejumlah oknum didasari fakta-fakta kebetulan dan dukungan secara subjektif. Karna isu agama adalah sensitif, dan siapapun itu ketika apa yang diyakininya dirasa-rasa terancam oleh sebagian pihak, tidak jarang mereka menjadi curiga dan merasa tidak aman. Saya muslim, tapi saya menentang keras isu agama jadi alasan seseorang menjatuhkan individu lainnya. Bukan karena saya tidak memahami agama yang saya yakini, tapi ini soal berlebihannya isu agama diangkat sampai menjatuhkan agama lainnya. Sudah bukan lagi menjatuhkan subjek yang jadi target sasaran. 

Terkadang perlu untuk meletakan dulu isu keyakinan atau agama sejenak agar kita bisa maju ke depan. Sama halnya seperti kalian melupakan kecurigaan kepada pacar ketika sedang Long Distance Relationship. Hal ini sudah lebih dulu dilakukan negara-negara lain sampai negara tersebut menjadi sebuah negara yang maju. Ini disebut dengan sekulerisme. Atau secara lebih lengkap dalam wikipedia tertulis :

Negara sekuler adalah salah satu konsep sekularisme, di mana sebuah negara menjadi netral dalam permasalahan agama, dan tidak mendukung orang beragama maupun orang yang tidak beragama. Negara sekuler juga mengklaim bahwa mereka memperlakukan semua penduduknya sederajat, meskipun agama mereka berbeda-beda, dan juga menyatakan tidak melakukan diskriminasi terhadap penduduk beragama tertentu. Negara sekuler juga tidak memiliki agama nasional.
Negara sekuler didefinisikan melindungi kebebasan beragama. Negara sekuler juga dideskripsikan sebagai negara yang mencegah agama ikut campur dalam masalah pemerintahan, dan mencegah agama menguasai pemerintahan atau kekuatan politik.

Penjelasan tentang negara sekuler tersebut bukan melupakan agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tapi bersifat netral atau tidak mendukung termasuk menjatuhkan agama lainnya sebagai kekuatan politik. Jepang dan Belanda adalah negara-negara yang akan saya bahas kali ini. 

1. Jepang
Saya tau soal Jepang secara langsung dari seorang dosen UIN yang tidak mengajar saya. Siang itu saya akan berangkat ke BPS untuk mencari data skripsi. Tunggu menunggu APTB didepan halte kampus saya dan teman-teman bertemu seorang pria paruh baya yang tiba-tiba bertanya tentang bis. Lama-lama, saya dan teman-teman ngobrol panjang dengan bapak tersebut yang ternyata dosen fakultas lain di kampus saya. Seluruh keluarganya tinggal di Jepang. Anak-anaknya bersekolah disana. Dan berikut yang saya ketahui tentang Jepang dari bapak tersebut. Jepang, sang raksasa asia ini termasuk ke dalam jajaran negara sekulerisme. Bersifat netral dan tidak mengikutsertakan agama dalam menguasai pemerintahannya. Hal ini menjalar ke seluruh sendi-sendi masyarakat. Apapun agama penduduk jepang maupun WNA yang tinggal disana, tidak menjadi faktor penghambat mereka dalam menjalani kehidupan yang harmonis. Dan buktinya, sudah semaju apa Jepang saat ini saya tidak perlu menjelaskannya. Sama seperti Indonesia, Jepang juga memiliki jumlah penduduk pemeluk agama secara mayoritas. Namun mereka tidak memiliki agama nasional. Bahkan, sebagian dari mereka tidak memiliki keyakinan atau agama. Yang mereka yakini adalah tetap menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Maka dari itu isu agama tidak banyak diangkat dinegara ini. Damai sejahtera. 

2. Belanda
Dilegalkannya homoseksual dan lesbi di Belanda menjadi salah satu bukti Belanda memberikan kebebasan sebebas-bebasnya bagi seluruh penduduknya untuk melakukan apa yang diyakini. Saya tidak bilang hal tersebut adalah salah atau benar. Tapi, semua kembali kepada masing-masing pribadi dalam memandang hal-hal seperti ini. Penduduk muslim di Belanda menempati posisi ketiga. Dan rata-rata pemeluk agama islam berasal dari imigran. Sama seperti Jepang, Belanda tidak mencampurkan isu agama dalam pemerintahan dan kekuatan politik. Dan lihat bagaimana Belanda berdiri saat ini. 

Rusia, Singapore, China, Swiss, Austria juga masuk jajaran nama negara sekulerisme yang sudah menjadi negara maju di dunia. Mustafa Kamal Attaturk, Bapak Turki modern yang berperan penting atas kemajuan Turki juga seorang penganut sekulerisme. Kamal mengatakan bahwa “Jangan marah, kita bukan melempar agama kita, kita cuma menyerahkan agama kembali ke tangan rakyat kembali, lepas dari urusan negara supaya agama dapat menjadi subur”. 

Terkadang kita memang harus memikirkan hajat hidup orang banyak ketimbang mengangkat isu agama ke daratan sebagai suatu kekuatan. Kembali pada kepercayaan juga ketakwaan masing-masing individu lah yang akan membuat kita tetap menjadi muslim yang baik. Semua agama itu benar, tidak ada agama yang mengajarkan hal-hal yang salah. Hanya beberapa oknum berhasil memandang sebuah agama dari sudut pandang yang salah. 

Kita memang cukup pintar untuk menelaah isu-isu agama yang diangkat ke daratan, tapi apa mereka yang hidupnya serba pas-pasan, tinggal di rumah kardus, atau kolong jembatan sudah bukan jadi prioritas kesejahteraan bagi negara? Sama seperti kalian buat petisi hentikan YKS. Dulu saya ikut mendukung petisi ini karna saya pikir ini tayangan yang tidak sama sekali mendidik. Tapi saya berubah pikiran ketika melihat beberapa tetangga yang sudah tidak butuh tayangan yang mendidik, karna yang mereka butuhkan hanya hiburan setelah seharian berusaha keras menerjang kerasnya kehidupan ibukota. Nah, apa isu agama jadi momok yang sangat berarti ketika kesejahteraan rakyat, keseimbangan, keharmonisan kehidupan yang jadi taruhannya?

Amerika terlalu lelah, Eropa terlalu tua, ini saatnya Indonesia untuk menggantikan mereka. 

Share on Google Plus

12 comments :

  1. Ouw...tengkyu info tentang sekulerismenya di Jepang... Apalagi tau lsg dr orang yang pernah tinggal Di Jepang... Indonesia mah masih kasak kasuk soal isu yg sensitif...padahal orang yang diisuin jg gak kenapa-kenapa, alias biasa2 saja nanggepinnya...hihihi.... Apalagi jelang pemilu.. Oh.. begitu jahatnya saling menjelekkan ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah kadang subject yang jadi korban juga lagi duduk manis aja. kadang orang ga salah dijadiin bersalah, yang bersalah jalan-jalan ke luar negri. *laaaah* hahahhaa

      Delete
  2. Indonesia bisa, bukan karena kita terbiasa dijajah tapi sudah waktunya bangkit. W-t-dn

    ReplyDelete
  3. nambah pengetahuan ini...
    makasih makasih noni ;D

    ReplyDelete
  4. Wah, nambah ilmu lagi hehe. :D

    Btw, kl ke Jepang tp bisa singgah ke Korea. Ibarat kata, kyk ke Batam tp bisa singgah ke Spore. #apasihDil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaaaah gitu ya? baru tau aku. hehe.. dua negara itu sama2 bagus sama2 bersih sama2 asik. aaaak jadi pengen kesanaaaa.

      Delete
  5. Indonesia bisa bangkit di mulai dari kita.. mari bangkit

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo bangkit!!!..............*mulailah dari tempat tidur pada pagi hari* hehehe

      Delete
  6. Indonesia bisa lebih baik lagi dari negara-negara itu kalau penduduknya paham dan mengaplikasikan dgn benar arti bhinneka tunggal ika :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. bhineka tunggal ika kadang kaya semboyan biasa aja :(

      Delete