Macetnya Ibukotaku

4:09 PM

Padatnya kesibukan ibukota membuat kata “macet” menjadi trending topic bagi warga Jakarta dan sekitarnya setiap hari. Meningkatnya volume kendaraan, luasnya jalan yang tidak berbanding lurus dengan peningkatan volume kendaraan, pelanggaran yang dengan sengaja dan tidak sengaja dilakukan para pengendara, ditambah bonus asap kendaraan yang menjadi polusi udara harus kami hadapi setiap hari. Melelahkan memang, tapi inilah kehidupan ibukota yang harus kami hadapi. Tidak, kami tidak marah dan tidak benci dengan padatnya ibukota. Bagaimanapun, kami makan dari tanah air sendiri yang sudah merdeka. Bayangkan jika kami hidup di masa-masa perjuangan tanpa henti siang dan malam, tidur tidak nyenyak dengan harapan besok pagi keluarga kami masih lengkap, makan dengan rasa sesak di dada tidak bisa menelan karena bercampur rasa pahitnya penjajahan kala itu. Meskipun kala itu tidak ada masalah kemacetan di jalan yang bahkan masih dipenuhi rerumputan dan tidak dipusingkan dengan sekelumit kemacetan, bahkan berjalan dengan berani saya ragu untuk melakukannya. 

Sumber gambar : http://megapolitan.harianterbit.com/

Ibukota di era globalisasi menjadi jantung kehidupan kami, pusat pemerintahan, dan tentunya pusat dari permasalahan lalu lintas. Lewat sana macet, lewat sini macet, putar arah macet, bahkan akses jalan tol pun padat. Lalu kami harus lewat mana? Belum ada mobil terbang atau pesawat mini yang diciptakan manusia dan bisa kami pakai sehari-hari. Transportasi massal seperti commuter line menjadi alternatif kami untuk menghemat waktu. Tapi tetap saja, sebagian dari kami masih harus menjangkau kantor dengan transportasi umum lainnya dan masih harus menghadapi kemacetan lagi. Saya tidak marah dengan pemerintah, hanya saja perlu beberapa hal yang harus direkayasa untuk mengurangi masalah kemacetan. Ya, mengurangi. Menghilangkan menurut saya terlalu cepat untuk negara berkembang seperti Indonesia. Kita butuh waktu untuk berbenah diri dari segala sisi. 

Masih banyak hal yang harus dibenahi secara perlahan dan tidak instan. Hal ini membutuhkan banyak pihak yang berperan penting dalam mengurangi kemacetan lalu lintas. Masyarakat yang dapat bekerja sama dengan baik dalam berkendara dan memiliki kesadaran untuk menggunakan transportasi massal menjadi hal krusial dalam lalu lintas. Asumsikan 1 bus kecil  yang dapat memuat 25 – 30 orang dengan 20 mobil yang dikendarai per orang didalamnya. Berapa persen kemacetan yang dapat diurai dengan mengendarai bus? Kesadaran masing-masing masyarakat untuk patuh pada rambu-rambu lalu lintas, marka jalan, dan peraturan simple berkendala lainnya juga menjadi kewajiban untuk ikut serta mengurangi permasalahan lalu lintas. Setiap pengendara memiliki haknya masing-masing. Tapi bagaimana dengan kewajiban yang harus dijalani pengendara tersebut? Sudahkah hak dan kewajiban kita dijalani dengan seimbang? 

Selain itu, peran penting Bapak Polisi dan Ibu Polwan tidak kalah krusialnya. Saya pernah menghadapi kemacetan sekitar 15-20 menit di jalan Semanggi sore hari setelah pulang kerja. Beberapa menit kemudian lalu lintas menjadi lancar dikarenakan ada seorang Polisi yang dengan tegas dan kuat berdiri di tengah jalan mengatur jalannya kendaraan. Saya berpikir peran mereka sangatlah penting dalam mengatur lalu lintas jalan ibukota tercinta ini di jam-jam kemacetan. Dengan berada di titik-titik kemacetan di jam-jam tertentu dan mengatur kendaraan yang berjalan dengan baik membuat kemacetan menjadi terurai dan berkurang. Bayangkan jika ada 5-7 personel Polisi di tiap titik kemacetan dengan rekayasa lalu lintas, kemacetan di jalan ibukota pun bisa terurai berkat peran mereka. 

Rekayasa lalu lintas
Sering saya mendengar cerita dari teman-teman saya bagaimana kotanya mengurangi masalah kemacetan. Salah satunya adalah dengan merekayasa lalu lintas. Luasnya jalanan tidak bisa kita salahkan begitu saja. Ya, faktor luasnya jalanan memang menjadi salah satu penyebab kemacetan. Ditambah berkurangnya jalan setelah dibangunnya jalur khusus bus transjakarta. Percaya atau tidak, dengan membuka jalur busway khusus untuk pengendara motor dan bus transjakarta ketika kemacetan sedang pada puncaknya, cukup mengurai kemacetan di ibukota. Hanya motor, ya karena motor merupakan kendaraan yang bergerak gesit dan luwes. Berbeda halnya dengan mobil yang tidak “gemulai” di jalan yang macet. Motor lebih fleksibel dan “gemulai” dibandingkan dengan mobil. Pembukaan jalur busway untuk pengendara motor ketika titik kemacetan mencapai puncaknya pernah dilakukan sesekali di Sepanjang jalan Mampang. Amazing, kemacetan benar-benar terurai dan keadaan lalu lintas kendaraan di sepanjang jalan menjadi ramai lancar. Pembukaan jalur busway khusus pengendara motor dan bus transjakarta bisa dicoba di jam-jam sibuk seperti jam 07.00 – 09.00 dan jam 17.00 – 19.00. Mungkin saat ini perluasan jalan raya masih dalam tahap pengembangan, namun kemacetan ini masih bisa kita urai dengan merekayasa lalu lintas pada jalur busway.

Tenggat waktu lampu merah
Selain pembukaan jalur busway di jam-jam tertentu, tenggat waktu lampu merah di beberapa titik dirasa cukup lama dan membuat kendaraan bertumpuk. Menurut saya, tenggat waktu yang lama pada lampu merah bisa menjadi salah satu faktor menumpuknya kendaraan di jalan. Dengan menyingkatkan waktu lampu merah dan hijau, setidaknya membuat kendaraan berjalan lambat. Saat ini yang terjadi adalah lamanya lampu merah membuat kendaraan yang berada di belakang semakin menumpuk dan menumpuk sehinggan menciptakan kemacetan yang mengular ke belakang. 
(Sumber gambar : klik)




Penempatan personel Polisi di beberapa titik kemacetan 
Kendaraan yang “berebut” untuk belok kanan atau kiri membuat kendaraan di belakangnya untuk berhenti dan pada akhirnya terjadi kemacetan dalam waktu yang lama. Hal ini tidak ragu lagi karena kami egois ingin cepat sampai pada tujuan. Namun, ketika ada Polisi yang mengatur laju kendaraan yang ingin berbelok, membuat kami menunggu dan pada akhirnya kami akan berjalan pada waktunya dengan lancar. Penempatan para personel Polisi ini sangat dibutuhkan agar para pengendara tidak menjalankan kendaraan semaunya. Berbelok saat Bapak Polisi mengarahkan untuk belok, atau jalan terus ketika Bapak Polisi merasa jalan sudah cukup aman untuk dilalui. Menunggu untuk kemudian berakhir kebaikan tidak ada salahnya. Sama dengan kita yang sabar menunggu Bapak Polisi mengatur jalan raya, dan pada akhirnya jalan yang lancar dapat kita lalui. 
(Sumber gambar: http://www.antarafoto.com/)

Mengurai kemacetan tidaklah mudah dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Namun beberapa daerah sudah bisa mempraktekannya dan mengurangi kemacetan lalu lintas. Sebut saja wilayah BSD (Bumi Serpong Damai) di Kota Tangerang Selatan. Wilayah BSD tidak didominasi dengan perempatan jalan yang berpotensi menimbulkan kemacetan. Namun, menciptakan putaran balik yang jaraknya cukup jauh. Menurut saya sebagai pengendara motor atau mobil, berjalan jauh dengan lalu lintas tanpa kemacetan dan lancar tidak menjadi masalah ketimbang kemacetan yang tidak berujung. 

Dengan mempraktekan tiga langkah kecil terlebih dahulu yakni rekayasa lalu lintas, tenggat waktu lampu merah, dan penempatan personel Polisi di titik-titik tertentu bisa menjadi langkah awal dalam mengurangi kemacetan lalu lintas. Kami berharap Polisi kami bisa melayani dengan baik dan siap sedia 24 jam untuk menjaga keamanan dan kenyamanan lalu lintas. Sebagai warga ibukota, saya sangat bergantung dengan adanya personel Polisi di jalan raya. Polisi yang tegas menegakan hukum dan peraturan yang berlaku dengan pelayanan yang baik, ramah, dan sopan adalah harapan bagi setiap orang termasuk saya. Polisi juga tidak bisa bekerja sendiri saja. Sama halnya saat kita memelihara beberapa ekor ayam yang kita giring ke kandang dengan baik saat malam tiba. Bukan, saya tidak mengasumsikan para pengendara sebagai beberapa ekor ayam yang digiring ke kandang. Kalau ayam saja bisa diatur dengan baik, kita manusia yang memiliki akal pikiran yang sehat, dan hati pastilah bisa mematuhi peraturan lalu lintas dengan baik dan menjadi bijak dalam berkendara. Pemerintah dan para pendukungnya termasuk Polisi kita tidak tinggal diam saja dalam menghadapi permasalahan lalu lintas ibukota. Jadi, mengapa kita tidak ikut serta untuk memulainya dari diri sendiri? 


(Sumber gambar : klik)

You Might Also Like

3 comments