Kelebihan dan Kekurangan Jam Kerja Shifting

8:16 AM

Memasuki dunia pekerjaan tentu tidak terlepas dari serba-serbi jam kerja yang bermacam-macam. Mulai dari office hour (08.00 - 17.00), shifting, atau kombinasi. Setiap perusahaan memiliki kebijakan dan aturan-aturan sendiri untuk para pekerjanya termasuk perihal jam kerja. Biasanya saat seorang pencari kerja sedang di-interview oleh perusahaan, sudah dijelaskan jam kerja yang akan dihadapi oleh si calon pekerja. Kebanyakan perusahaan yang bergerak di bidang perbankan memberlakukan jam kerja office hour karena memang kebutuhan dari para nasabah pun lebih peak pada jam-jam kerja (08.00 - 17.00). Sedangkan bagi perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan atau departemen pelayanan saja, memberlakukan jam kerja shifting. 

Jam kerja shifting tentu bermacam-macam tergantung kebutuhan masing-masing perusahaan. Biasanya perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi khususnya departement pelayanan atau customer care (baca di sini ) menyediakan pelayanan 1x24 jam dimana perusahaan tersebut membutuhkan para pekerjanya untuk bekerja 1x24 jam. Dengan kebutuhan perusahaan (1x24 jam) maka diberlakukanlah jam kerja shifting untuk memenuhi kebutuhan perusahaan. Jam kerja shifting sendiri bermacam-macam. Ada yang dimulai dari jam 5 pagi, sampai jam 10 malam. 

Sebelum mengupas kelebihan dan kekurangan jam kerja shifting, ada baiknya saya memberikan pandangan tentang bagaimana sih bekerja dengan pola kerja seperti ini. 

Pertama, siapkah kamu? 
Siapkah kamu, pencari kerja, untuk menghadapi pola hidup yang sangat berbeda dari orang-orang kebanyakan. Ada peluang bagi pekerja dengan jam kerja shifting untuk libur di tanggal merah, weekend, atau hari-hari tertentu (cuti bersama atau hari raya keagamaan). Namun, ada pula perusahaan yang tidak memberlakukan hal tersebut untuk memenuhi kebutuhan perusahaan. Sebut saja call center 24 jam, layanan customer care di social media, hotline customer care (sama dengan call center), divisi customer relation, atau masih banyak lagi. Maka, siapkah kamu untuk menghadapi hidup yang berbeda dengan yang lainnya dimana orang lain menikmati quality time bersama keluarga di hari libur sedangkan kamu harus siap untuk bekerja di hari libur? Siapkah kamu untuk menghadapi tantangan-tantangan pola kerja shifting seperti jam kerja yang dimulai sepagi atau semalam mungkin? Siapkah kamu untuk mengorbankan hal-hal yang dirasa penting karena tuntutan pekerjaan? Siapkah kamu untuk gak pergi ke nikahan mantan yang diadakan di hari libur karena kamu harus bekerja di hari libur? Siaaaaaaaap dong kalau untuk yang terakhir ya? 

Kedua, kuatkah kamu?
Kuat dong pastinya kalau minum jamu kuat ya? Eh eh salah fokus. Maksudnya kuatkah kamu untuk menjalani jam kerja shifting yang akan mempengaruhi kesehatan kamu? Kebanyaan pencari kerja tidak memikirkan dengan matang sebab akibat atau nantinya bagaimana ketika menjalani pola kerja shifting. Kalau kamu mengidap penyakit yang mengharuskan kamu untuk lebih banyak beristirahat dan tidak boleh terlalu lelah, saya sarankan untuk menghindari pola kerja shifting karena pola kerja shifting ini sedikit banyak akan mempengaruhi kesehatan seseorang. 

Ketiga, pengorbanan. 
Setiap orang memiliki keadaan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Terkadang jam kerja shifting bisa jadi sangat bermanfaat atau menguntungkan bagi sebagian orang. Namun, ada juga yang harus mengorbankan beberapa hal dalam hidup untuk bekerja di jam kerja shifting. Hal-hal yang dikorbankan itulah yang tentunya berbeda-beda dan saya tidak bisa menyebutkan seperti apa karena masing-masing orang punya hidup yang berbeda satu sama lain. Siapkah kamu untuk mengorbankan hal lain yang mungkin bisa menjadi hal yang penting, untuk diganti dengan bekerja?
Source pic : invisiblebread.com
Kelebihan Jam Kerja Shifting 
1. Waktu yang fleksibel 
Jam kerja shifting tentu berbeda dengan jam kerja office hour (08.00 - 17.00) di mana pola kerjanya diatur sesuai dengan kebutuhan masing-masing perusahaan. Misalnya jam masuk pada jam 05.00 pagi, sedangkan jam pulang pada jam 14.00. Atau jam masuk pada jam 21.00, sedangkan jam pulang pada jam 06.00 pagi. Ada juga pola kerja shifting dengan memberlakukan jam masuk dimulai dari jam 08.00, 09.00, 10.00, 11.00, 12.00, dst. Tinggal di tambah 8-9 jam kerja dan itulah jam pulang si pekerja. Biasanyaaaa, dengan adanya jam kerja shifting ini, sebagian perusahaan memberlakukan tukar shift jika si pekerja ingin melakukan tukar shift karena kebutuhan masing-masing. Di sini lah yang saya maksud dengan waktu yang fleksibel. Kekurangan dari para pekerja office hour adalah di saat memiliki kebutuhan mendesak yang harus dilakukan di weekday, maka mereka tidak bisa melakukannya selain meminta izin dari kantor atau mengambil cuti (yang mana akan memotong jatah cuti). Namun, para pekerja shifting ini bisa melakukan tukar shift dengan teman kerjanya jika dibutuhkan dan tentu tidak harus mengambil cuti atau meminta izin karena perusahaan membolehkan karyawannya untuk tukar shift. Jika kamu siap untuk menjadi pekerja shifting, tanyalah pada saat interview apakah diperbolehkan untuk tukar shift atau tidak. 

2. Benefit yang lebih besar
Selalu ada yang dikorbankan dan tentunya selalu ada kelebihan yang didapatkan. Kelebihan dari para pekerja shifting biasanya terletak pada benefit atau gaji yang didapatkan lebih besar dari pekerja office hour karena ada tunjangan-tunjangan yang memang sepatutnya diterima oleh para pekerja shifting. Alasan mereka tetap melakukan pekerjaan dengan jam kerja shifting salah satunya karena benefit dan gaji yang ditawarkan tentu lebih besar dari pekerja dengan jam kerja office hour. But remember, kamu tidak dapat X tapi dapat Y. Kamu dapat Y tapi tidak dapat X. Loh, sama aja ya, hihi. 

3. Terhindari dari masalah lalu lintas 
Untuk yang satu ini sebetulnya bukan jaminan karena kalian tau sendiri kondisi jalan raya tidak bisa ditebak kapan saat macet, tiba-tiba macet, atau memang sudah macet sejak kamu lahir. Namun, tidak sedikit dari mereka yang memilih kerja shifting untuk menghindari masalah kemacetan. Misalnya saat seorang pekerja shifting masuk jam 12 siang, tentu peluang berkendara di tengah-tengah kemacetan akan lebih kecil ketimbang dengan mereka para pekerja office hour. Apalagi yang baru masuk jam 10 malam, paling-paling ya mereka berjuang menerpa angin malam dan jaga-jaga kalau ada begal di jalan. Selebihnya, masalah lalu lintas seperti kemacetan pasti bisa mereka hindari. 

Selanjutnya, selain memiliki kelebihan, jam kerja shifting juga memiliki kekurangan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini selain lagunya Andra and The Backbone yang berjudul "sempurna". Kelebihan dari jam kerja shifting seperti yang saya jelaskan di atas tentu masih banyak lagi. Semuanya tergantung kebutuhan pribadi masing-masing. 

Kekurangan Jam Kerja Shifting
1. Gangguan kesehatan 
Sebelumnya sudah saya jelaskan bahwa kuatnya seseorang menjadi faktor utama yang dibutuhkan saat melakukan pekerjaan dengan jam kerja shifting. Kenapa? Karena saat tubuh seharusnya digunakan untuk beristirahat, digunakan untuk bekerja. Jam istirahat yang seharusnya 8 jam, kadang tidak tentu juga didapatkan oleh seorang pekerja shifting. Seperti yang tertulis di tabloidnova.com , orang yang bekerja shift malam tidur kurang dari enam jam sehari, beresiko terkena kanker payudara, beresiko terserang diabetes tipe 2 lebih tinggi, meningkatkan resiko serangan jantung dan depresi. Seperti penjelasan sebelumnya, kalau kamu adalah orang yang kuat yang masih bisa menjaga kesehatan di segala keadaan, silakan lakukan pekerjaan dengan jam kerja shifting. Namun, kalau kamu sendiri memiliki gangguan kesehatan permanent, sebaiknya hindari pekerjaan shifting. Menjadi lebih cepat lelah salah satunya akan memicu timbulnya penyakit. Singkatnya, semua kerja tubuh yang seharusnya dikerjakan optimal pada pagi/siang haris, dipaksa untuk bekerja di luar jam optimal tersebut. Kalian bisa bayangkan bagaimana melawan yang tidak seharusnya bukan? Termasuk melawan perasaan. Untuk gangguan kesehatan sebenarnya hal tersebut masih bisa disiasati dengan berolahraga secara teratur, makan makanan bergizi, minum suplemen atau vitamin sesuai kebutuhan tubuh. Kembali lagi ke kebutuhan masing-masing orang. 

2. Tidak bisa menikmati hari libur 
Source pic : nyunyu.com
Kalau kamu tipikal orang seperti saya yang lebih memilih menghabiskan quality time bersama keluarga atau sahabat di hari libur, lebih baik kamu hindari pekerjaan dengan jam kerja shifting. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk memahami keadaan kita sebagai pekerja shifting. Tentu saja kebanyakan dari pekerja adalah pekerja office hour. Saat keluarga berkumpul di rumah bersama di hari libur yang sama, sedangkan kita harus masuk kerja, kamu harus siap untuk tidak bisa menikmati hari libur kamu. Jangan anggap remeh dan sepele untuk poin yang satu ini. Saat bekerja dengan jam kerja shifting, saya merasa saya mampu dan kuat untuk menjalani hidup yang berbeda dari kebanyakan pekerja lainnya. Salah satunya dengan tetap bekerja di hari libur. Tapi setelah beberapa bulan menjalani pekerjaan dengan jam kerja shifting, saya akui saya tidak kuat. Tidak kuat menahan untuk tidak mendapatkan quality time bersama keluarga saya. Ayah saya yang bekerja di luar kota dan LDR-an dengan keluarga hanya bisa pulang satu bulan sekali di hari libur. Saat saya menjadi pekerja shifting, saya banyak melewatkan waktu bersama ayah saya saat dia ada di rumah. Saya memutuskan bahwa saya tidak cocok dengan pola kerja shifting. Nah, pikirkan matang-matang hal ini ketika kamu dihadapkan dengan pilihan pekerjaan shifting. Kamu akan sangat tidak bisa menikmati hari libur yang dirasakan kebanyakan orang. Tanggal merah, hari raya keagamaan, atau hari-hari libur di kalender tidak berlaku bagi para pekerja shifting. Yaaa, saya bisa katakan pekerja shifting memiliki kalender sendiri. Hehehe. 

3. Kinerja yang kurang maksimal 
Gagal fokus, tidak teliti, atau kurangnya konsentrasi (loh, ini kan sama semua) adalah salah satu kekurangan dari jam kerja shifting. Tingkat kesalahan yang dilakukan saat bekerja di shift malam tentu lebih tinggi peluangnya ketimbang bekerja di siang hari. Tubuh di paksa untuk fokus saat seharusnya beristirahat. Maka, pekerja shifting memiliki peluang lebih besar ketimbang pekerja office hour. Dibutuhkan adaptasi yang cukup (tergantung kemampuan masing-masing orang) untuk membiasakan diri dengan jam kerja shifting. Biasanya di awal-awal minggu seorang pekerja akan kaget atau shock dengan pekerjaan yang dia lakukan. Tidak sedikit dari mereka yang jatuh sakit karena tubuh harus menyesuaikan pola hidup yang berbeda dari yang biasa dijalankan. Kalau kamu adalah seseorang dengan tingkat kekuatan (duileeh, ini berasa lagi bahas debus) yang lebih tinggi, menyukai tantangan, dan dapat beradaptasi secara cepat, maka jam kerja pun tidak akan mempengaruhi kinerja kamu sendiri. So, just do it. 

Memilih pekerjaan itu seperti memilih kehidupan yang baru yang akan kita jalani. Sama halnya seperti memilih pasangan, tentu ada kelebihan dan kelemahannya. Aduuh, gagal fokus lagi noooon. Intinya adalah, saat kalian dihadapi dengan pilihan pekerjaan dengan pola kerja shifting, pikirkan dengan matang dan jangan terburu-buru mengambil keputusan. Silakan buat list kelebihan dan kekurangan kalau kamu melakukan pekerjaan dengan jam kerja shifting ini. Setelah itu berdoalah sesuai dengan keyakinan masing-masing agar pilihan yang kamu pilih tidak akan membuat kamu menyesal pada nantinya. Walaupun fresh graduate, tidak ada salahnya untuk memikirkan matang-matang apa yang akan kamu jalani selanjutnya. 



Whatever your life's work is, do it well. A man should do his job so well that the living, the dead, and the unborn could do it no better.

-Martin Luther King, Jr.

You Might Also Like

3 comments

  1. Sippp..
    Insya Allah nggak lama lagi menyelam ke dunia pekerjaan juga
    boleh deh buat tambahan ilmu sebelum praktek hehehe

    ReplyDelete
  2. alhamdulillah. seneng deh kalau bermanfaat. good luck yaaa dede auuul :)

    ReplyDelete