Lesson of the Day

2:22 PM

Mati rasa. 

Orang bilang bahagia dan pedihnya cinta yang membuat seseorang menjadi semakin kuat dan tangguh. Dipertemukan dengan orang yang salah merupakan pelajaran terindah sekaligus terperih yang nantinya akan menjadikan seseorang lebih tangguh dari sebelumnya. Bukan dia yang salah, namun dia hanya bentuk pelajaran yang menjelma menjadi yang hidup dan mengambil perannya. Saya percaya, saya percaya pahit manisnya hidup akan membuat sebuah pohon semakin besar dan kuat. Semakin besar dan semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang meniupnya. 

Hidup bukan sekedar cinta kepada yang hidup dan nyata. Cinta bukan sekedar cerita antara yang hidup dan yang berjalan bersama. Sang Maha Cinta yang berhak atas hati yang dimiliki masing-masing insan. Kepada siapa, dan berakhir dengan siapa, semuanya hanya Dia yang berhak mengelolanya dengan bumbu-bumbu apik yang menjadi satu dalam sebuah drama realita. Bagai bermain wayang di bumi kehidupan. 

Indah hanya kita yang rasakan, perih juga hanya mereka yang hidup yang merasakan perihnya. Mereka juga tidak bilang kalau cinta hanya sekedar bahagianya saja. Kalau hanya sekedar kata bahagia, bagaimana dengan mereka yang harus hidup dengan berperih luka kelaparan dan kemiskinan. Dalamnya hati hanya yang merasakan yang tau, perihnya luka juga hanya dia yang tau. Namun satu yang pasti, mereka bertahan karena sang Maha Cinta membuat mereka bertahan bahkan dalam keadaan mencekik kelaparan. 

Ada hari dimana kita jatuh dan dihujam jantungnya berkali-kali dengan kenyataan yang jauh dari harapan. Harapan yang sudah dipupuk setinggi mungkin yang kemudian jatuh ke jurang yang bahkan terlalu dalam. Hari dimana berjalan saja seperti tidak ada rasanya, hari dimana indera pengecap seperti tidak bernyawa, hari dimana pikiran yang tidak menentu belari ke arah yang tidak diharapkan, hari dimana langkah terasa gontai walau sudah berlari sekencang mungkin, hari dimana kita berharap untuk tidak hidup sementara namun tidak mati dengan cepat. Hari dimana kita sangat ingin membungkus luka dengan kebahagiaan yang sederhana. 

Semuanya bagai skenario yang terbungkus apik dengan indahnya. Selalu ada bahagia, namun tidak lupa yang terluka pun selalu ada. Bukannya tidak adil, itulah keseimbangan. Tidak dibiarkan selalu berbahagia, namun untuk sesaat merasakan perihnya luka. Dengan siapa dan bagaimana yang terluka, semuanya sudah tercatat dengan tulisan tangan-Nya. Kisah terbaik adalah bukan soal siapa yang bahagia pada akhirnya, namun sejauh mana seseorang bisa menjadi pribadi yang kuat dan semakin taat kepada-Nya. 

You Might Also Like

0 comments