5 Kebiasaan Buruk Orang Indonesia


Pernah gak sih kamu menemukan beberapa kebiasaan buruk antara satu dan yang lainnya itu sama aja? Mungkin kalo buang air besar sembarangan di selokan komplek menjadi kebiasaan buruk yang minoritas, pasti pernah dong 5 dari 10 orang atau 7 dari 10 orang yang kita temui punya kebiasaan yang sama atau mirip-mirip sekenanya? Kalau saya sih, pernah, sering malah. Sebagian orang-orang yang ada di hidup saya beberapa memiliki kebiasaan buruk yang sama. Pada akhirnya saya berpikir, ini bukan kebiasaan buruk perorangan aja, melainkan kebiasaan buruk sebagian orang Indonesia. 

Buruk dalam hal ini ya gak buruk-buruk banget. Gak melanggar pasal sekian ayat sekian yang mengatur tentang etika dan kebiasaan atau melanggar norma dan adat istiadat yang berlaku di masyarakat. Bukan, buruk dalam hal ini adalah ya sekedar menjengkelkan perasaan orang lain aja. Kalau si korban salah satu yang menyandang status baper-an alias bawa perasaan, mungkin akan berujung sakit hati, tersinggung, atau malah jadi ngebete-in. Tapi kalau si korban orang yang tidak terlalu baper-an dan tipikal yang melupakan sesuatu dengan cepat sih, paling Cuma keki sejenak aja. 

Duh, emang apa sih sebenernya kebiasaan-kebiasaan buruk orang Indonesia yang sebaiknya dihindari?

1. Minta traktir 

“cieee ulang tahun ya, traktir dooong”

“cieee anniversary ya, traktirannya dooong”

“ciaeee naik jabatan ya, traktirannya mana niiih”

“cieeee wisuda, bisa kali traktiiir”

“cieeee, putus cinta ya? Traktiiiir dooong”

Loh loh, sampe putus cinta aja dimintain traktiran. Bayangkaaaan! 



Saudara-saudaraku sekalian, kalimat-kalimat persuasif (eh iya, itu persuasif apa bukan ya?) dengan makna minta traktir ini jadi kalimat top 5 kebiasaan buruk orang Indonesia yang sebaiknya di tahun 2016 kita kurangi. Kurang-kurangi lah kalimat “minta tratir” kepada seseorang yang sedang berbahagia atau merayakan sesuatu yang penting dalam hidupnya. Atau bahkan GAK ADA APA-APA TETEP AJA DIMINTAIN TRAKTIRAN. Iya, bahkan gak lagi merayakan apa-apa juga tetep aja diminta-in traktiran. 

Positifnya sih ya orang yang selalu dimintain traktiran dianggap mampu untuk mengeluarkan sedikit hartanya untuk mentraktir orang yang memintanya. Negatifnya, kita ga tau kepentingan dan kebutuhan orang lain itu sebenarnya kaya apa. Mungkin ada sebagian orang yang pada akhirnya menyerah dan mengesampingkan kebutuhannya demi kata-kata “minta traktir” yang tiada henti dilempar orang-orang bermental “gratisan” ini. Apalagi pada saat ulang tahun. Ulang tahun jadi moment yang paling pas buat sebagian orang melemparkan kata “traktir”. 

Awalnya sih ada yang memang hanya bercanda aja, sekedar basa-basi yang “menghiasi” kalimat selamat ulang tahun. Tapi, coba bayangkan kalau orang yang ulang tahun sepanjang hari bertemu sekitar 50 orang teman di lingkungannya dan mendapat kalimat-kalimat minta traktiran berulang kali? 
Awalnya memang bercanda, tapi kalau kalimat minta traktiran ini jadi beban dan membawa efek negatif kepada seseorang, maka bisa dikategorikan sebagai kebiasaan buruk yang harus kita hindari. Dalamnya hati seseorang kita gak akan tau, seberapa sensitif perasaan orang juga kita gak akan tau. Kadang yang terlihat didepan belum tentu yang sebenarnya dirasakan seseorang. Bisa saja dia tersenyum, tapi dalam hati dia merasa terbebani karena tidak bisa traktir namun selalu dilempari kalimat traktiran. Jadi, mulailah untuk mengurangi kalimat minta traktir. 

Kalau memang orang tersebut berniat untuk traktir, pasti dia akan traktir sendiri. Kalau memang tidak ditraktir, ya bukan rejeki kamu untuk menikmati sesuatu yang gratis hari itu. 

2. Gak enak-an 
Minta traktir dan gak enak-an sebetulnya mempunyai hubungan romantis yang saling berkaitan satu sama lain. Tapi, perasaan “gak enak-an” jadi kebiasaan buruk yang paling favorite bagi orang-orang Indonesia. Saya juga merupakan salah satunya yang selalu mempraktekan hal ini. Orang Indonesia memang ramah, suka menolong, dan juga basa basi. Saking ramahnya, seringkali memikirkan perasaan orang lain terlebih dahulu ketimbang perasaan sendiri. Perasaan gak enak-an ini muncul ketika seseorang merasa takut menyinggung atau menyakiti perasaan orang lain karena sesuatu hal yang pada akhirnya memaksa dirinya sendiri berada pada keadaan yang tidak nyaman. Singkat cerita, mengorbankan perasaan sendiri lebih baik ketimbang perasaan orang lain. Kita memang gak pernah tau apa isi hati orang lain sebenarnya. Tapi, orang-orang Indonesia lebih suka bertindak preventif alias mencegah daripada memperbaiki. Mencegah agar orang yang sedang dihadapi tidak sakit hati. Terkadang perasaan gak enak-an ini menjadi hal yang positif karena mengecilkan peluang terjadi ketidaknyamanan antara satu sama lain. Buruknya adalah, kita menjadi orang yang menyembunyikan perasaan sendiri. Padahal belum tentu “lawan main” kita berlaku sesuai pada asumsi kita sebenarnya. Contoh kecilnya seperti ini, sikat gigi si Budi dipinjam Iyem karena sikat gigi Iyem dipakai Jono untuk semir sepatunya. Karena bersahabat dan timbul perasaan “gak enak-an”, si Budi meminjamkan sikat giginya ke Iyem. Si Budi berasumsi kalau si Iyem akan marah bila tidak dipinjamkan sikat gigi. Padahal, si Iyem gak akan marah dan akan membeli sikat gigi baru. 

Nah, perasaan gak enak-an kita dengan 1000 asumsi yang keluar dari otak kita inilah yang kadang belum tentu menjadi hal yang terjadi di kemudian hari. Kadang kita harus jujur kepada diri sendiri sebelum jujur ke orang lain. Mengutamakan perasaan diri sendiri bukan berarti kita menjadi orang yang egois, namun kadang ada beberapa hal yang seharusnya kita bisa jujur atas perasaan kita sendiri. Masalah kedepannya seperti apa, namanya juga hidup. Penuh misteri dan pasang surut. Duuuuh.. 

3. Nitip 
Pernah gak sih saat kamu mau beli sesuatu atau mengerjakan sesuatu, selalu dititipin untuk mengerjakan hal lain? Misalnya, kamu mau beli makan, tiba-tiba teman kamu yang mager alias males gerak nitip beberapa 10 menu nasi padang di 2 restoran padang yang berbeda yang harus kamu beli (ini agak lebay sih sebenernya). Bete gak sih? Kebiasaan “nitip” ini sebenarnya datang dari ketergantungan orang satu sama lain. Buat apa dikerjain sendiri kalau bisa nitip? Singkatnya gitu. Bukannya tidak boleh ya nitip sesuatu ke teman, tapi kita juga harus memikirkan seberapa berat titipan kita dikerjakan oleh orang lain. Kalau titipan kita malah menyusahkan orang lain, apa hal tersebut juga bisa dikategorikan sebagai kebiasaan buruk? 

Kadang kita memang suka lupa untuk memikirkan efek atau keadaan yang akan orang lain terima atas titipan kita itu. Tidak ada larangan untuk menitip sesuatu, apalagi saat orang tersebut dengan sukarela dan ikhlas dunia akhirat menawarkan diri untuk dititipi. Tapi tentunya kita harus punya takaran kesulitan dari titipan kita itu. Kita juga harus memikirkan efek samping atas titipan kita ke orang lain. Kalau sekedar segelas kopi mungkin masih mudah, tapi kalau titipannya belanja bulanan, punya otak toh ‘le? 

Ketika keadaan memang memaksa kita untuk nitip ke orang lain, masih  bisa dimaklumi. Tapi, kalau keadaan kita masih bisa untuk mengerjakan sendiri, ya sebaiknya dikerjakan sendiri dulu bukan?

Kebiasaan nitip ini pun tentu beranak pinak. Yang paling menjengkelkan adalah NITIP OLEH-OLEH. Guys, orang yang sedang travelling tentu ingin menikmati travelling-nya bukan? Jadi, boleh lah tak usah diganggu dengan beban pikiran “nitip oleh-oleh” kita itu. Waktu itu saya pernah travelling lintas negara, saking banyaknya titipan, saat balik ke Indonesia, saya baru sadar SAYA GAK BELI APA-APA BUAT DIRI SENDIRI. Bayangkan! Beban pikiran gak enak-an tadi, merasuk ke sukma yang paling dalam, membentuk sebuah daftar titipan, yang pada akhirnya mengubur daftar keinginan pribadi saya. Mungkin memang hanya saya aja yang seperti ini. Tapi, camkan baik-baik, wahai saudara. Kalimat nitip oleh-oleh ini sebaiknya kita hindari atau kurangi aja. Unless, dia adalah anggota keluarga kita. Kita gak akan pernah tau berapa budget yang sudah dihabiskan seseorang untuk travelling atau seberapa luang waktunya untuk bisa beli sesuatu yang disebut dengan “oleh-oleh”. Ketika seseorang sedang travelling, tentu tujuannya menghilangkan stress. Tapi, kalau sampai kebiasaan “nitip” oleh-oleh ini jadi beban pikiran seseorang, apa tidak sebaiknya kita hindari? Toh kalau memang rejekinya dikasih oleh-oleh, ya pasti dikasih kan?

4. LUPA sama utang 
(pic source : nyunyu.com)

Ini jadi kebiasaan buruk yang paling menyebalkan, menjengkelkan, sekaligus memuakan versi saya. Pernah gak sih kamu ketemu orang yang lupa sama kewajibannya sendiri untuk membayar utang? Ya, pasti pernah. Kalau enggak, hidup kamu memang beruntung, kisanak. Ada sebagian orang yang LUPA atau bahkan AMNESIA sama hutang yang menjadi kewajibannya. Saya sebenarnya bingung untuk mendeskripsikan hal ini, karena saya tidak pernah ada di posisi ini. Sekecil-kecilnya hutang, pasti saya akan ingat. Tapi , kalau ada orang yang dengan santainya nongkrong di kafe mahal, jalan sana sini, belanja ini itu, check in sana sini, tapi sama hutang LUPA (sengaja gede-gede nulisnya), dan dalam tenggat waktu yang sangat lama masih saja amnesia, itu gimana ceritanya? Kalau ngelempari batu kali ke muka orang yang punya hutang gak melanggar hukum, mungkin si piutang akan dengan senang hati memilih melempar batu kali ke mukanya ketimbang nagih utangnya. Selalu ada aja alasan orang-orang yang lupa atau melupakan hutangnya ini. Mulai dari kebutuhan dia yang lebih urgent, gak ada uang buat makan minggu depan, mesti bayar cicilan iPhone 6-nya yang masih 50 bulan lagi, mesti bayar ini itu lah. Hellooooo, namanya hutang kemanapun tetap hutang dan harus dibayar sebagaimana seharusnya. 

Saat kamu dirundung kesulitan dan pada akhirnya berhutang adalah satu-satunya jalan terbaik yang harus kamu tempuh, setidaknya kamu bisa melakukan hal ini untuk tetap berhubungan baik dengan si piutang :

a. Catat hutangmu dan kapan target waktu yang kamu janjikan ke si piutang

b. Berusahalah untuk memenuhi janjimu tepat waktu. 

c. Kalau memang waktunya tiba ternyata jumlah yang harus dibayar belum terpenuhi, berusahalah untuk bayar seadanya dan meminta maaf karna belum bisa bayar. Saya sih tidak menganjurkan hal ini, tapi mungkin untuk menjaga hubungan baik dengan si piutang ini layak dicoba. Kadang, bagi si piutang, asalkan dibayar atau dicicil, dia akan bersedia. Namun, kalau memang dia tidak bersedia, ya itu menjadi tanggung jawab yang sudah kamu janjikan di awal. Jangan Cuma janji manis, kalau terasa pahit di belakang. Tsaaaah. 

d. Hutang itu menjadi hak mutlak yang harus dilunasi. Mau mencari alasan sebagus dan secantik apapun, hutang tetaplah hutang. Sampai mati pun tetap harus dilunasi. Mau sampai tua pun, hutang yang belum dibayar masih tercatat dihadapan Tuhan. Jadi, lunasilah, sebelum umurmu dilunasi Tuhan. 

e. Kesampingkan kebutuhan, dan lunasi hutang. Saya yakin, sebagian kebutuhan-kebutuhan kita tidak semuanya menjadi kebutuhan primer. Saat lipstick jadi kebutuhan primer saya, saya bisa mengesampingkannnya sejenak untuk membayar hutang terlebih dahulu. Nah, kadang bagi orang-orang yang berhutang sepertinya sangat sulit untuk mengesampingkan kebutuhannya terlebih dahulu dan melunasi hutangnya. 
Berhutang memang bukan kebiasaan yang buruk ketika keadaan memaksa kita untuk berhutang. Buruknya adalah ketika kita melupakan hutang dan tidak berusaha untuk melunasinya. Menimbulkan efek samping yang sangat memuakan bagi orang lain tentu bisa dikategorikan sebagai kebiasaan yang buruk untuk kita hindari. Lebih buruk lagi kalau sudah berhutang, kalian dengan bangga memamerkan

f. Jangan marah dan kesal kalau ditagih si piutang. Kamu waktu butuh dia, dengan senang hati si piutang memberikan pinjaman bukan? Jadi saat dia menagih yang menjadi haknya, ya jangan marah dan memperlakukan seolah-olah si piutang lah orang yang berhutang. Tetap menjaga kata-kata dan bersikap sopan seperti seharusnya kepada si piutang sudah menjadi kewajiban setiap orang. 

5. Menggunakan HP sambil berkendara

Hal yang satu ini memiliki level paling tinggi dalam top 5 kebiasaan buruk orang Indonesia yang sudah sangat amat banget wajib dihindari karena selain membahayakan diri sendiri, juga membahayakan orang lain yang gak bersalah. Bayangin aja ya, jika ada beberapa pengendara motor harus berjalan pelan di belakang pengendara yang sedang sibuk dengan gadget-nya dan menyebabkan tidak fokus di jalan, ngerem mendadak, dan terjadilah tabrakan beruntun. Toh kamu kalau ketemu malaikat pencabut nyawa memang gak terima kompromi sih, tapi ya gak usah ajak-ajak pengendara lain walau yang lain gak bisa kompromi juga. Balas chat teman atau pacar kan bisa kamu lakuin waktu kamu sampai rumah nanti. Atau kalau memang kebutuhan urgent banget, usahakan untuk ke pinggir jalan dulu. Kalau kamu memang tipikal manusia yang harus stand by di telpon karena sangat dibutuhkan, kamu bisa coba untuk stand by dengan pasang handset. Jadi kalau ada panggilan penting yang masuk ke HP kamu, ya tinggal kamu tekan aja tombol di handset kamu tanpa harus fokus ke layar handphone. 

Intinya, kebiasaan menggunakan HP sambil berkendara ini sudah sangat patut kita hindari karena bukan hanya termasuk ke dalam kebiasaan buruk saja, tapi juga kebiasaan buruk yang merugikan bagi orang lain. Sesungguhnya, berkendara di belakang ibu-ibu yang kemampuan berkendara motornya masih dibawah rata-rata jauh lebih baik ketimbang berkendara di belakang pengendara yang sibuk dengan gadget-nya ketika sedang berkendara. Kayaknya saya terlalu banyak menggunakan kata berkendara, pengendara, dan teman-temannya ya? 

Nah, kebiasaan buruk di atas memang masih bisa dimaklumi oleh orang lain (kecuali nomor 5). Tapi, menurut versi saya, kebiasaan buruk tentunya dianjurkan atau lebih baik dihindari. Karena, demi kebaikan sendiri dan orang lain, perlu lah kita untuk merubah kebiasaan-kebiasaan buruk. Kadang hal kecil yang kita lakukan terhadap orang lain tanpa sadar memberikan dampak yang tidak pernah kita tau seperti apa bentuknya. Mulailah untuk memulai dari yang kecil-kecil dan mudah untuk dilakukan. Seperti berhenti bercanda minta traktir di hari-hari penting seseorang atau berhenti bercanda nitip oleh-oleh kalau teman sedang berpergian. Niatnya memang bercanda, tapi belum tentu orang yang kita ajak bercanda memang mengira kita bercanda. 





"most people don't have that willingness to break bad habits. they have a lot of excuses and they talk like victims"

-carlos santana
Share on Google Plus

0 comments :

Post a Comment