Ketika waktu terus berputar

9:16 AM

Menulis artikel di pagi hari sembari ditemani hujan yang terus turun sejak jam 06.30 dan secangkir black tea, ternyata tidak buruk. Niat hati ingin senam pagi, lari pagi, olahraga pagi, dan apapun yang berhubungan dengan pagi-pagi di akhir pekan ternyata memang selalu akan menjadi wacana yang tidak pernah terwujudkan. Untuk pekerja seperti saya yang 5 hari kerja Senin sampai dengan Jumat disibukan dengan aktivitas jalan raya Jakarta yang padat merayap dan hari-hari yang lebih banyak dihabiskan di kantor, membuat saya dan sebagian orang lainnya "sayang-sayang" untuk tidak memanfaatkan akhir pekan dengan leyeh-leyeh saja. 

Melihat calender membuat saya "ngeri". Iya, ngeri. Hal yang paling ngeri bukan ketika kamu mendapat undangan pernikahan dari mantan-yang-putus-pas-lagi-sayang-sayangnya. Hal yang paling ngeri adalah melihat calender yang menunjukan tanggal sudah semakin tua dan gaji pun belum masuk ke rekening tabungan. Apa daya, barang-barang lucu di online shop pun hanya sekedar masuk wish list aja. Dan kami pun harus bertahan hidup beberapa hari ke depan dengan selembar uang berwarna merah sebelum gaji masuk ke rekening tabungan. 

Hari terus bertambah, tahun sudah berganti, umur semakin berkurang. Impian masih banyak yang belum kesampaian, hidup masih butuh untuk ditata ruang geraknya. Perlahan-lahan teman-teman sekolah memulai kehidupan baru dengan membangun bahtera rumah tangga bersama pasangannya masing-masing. Ayah-ibu semakin tua, semakin banyak keinginan yang ditumpukan ke anaknya termasuk momong cucu yang lucu-lucu sebelum mereka semakin bertambah tua. Saudara-saudara yang "kemarin" masih ingusan sudah tumbuh menjadi perjaka ganteng dan gadis belia cantik. Setelah itu semua, kita hanya bisa berkata dalam hati "tagihan awak masih banyak pula", eh eh salah, maksudnya kita hanya bisa berkata dalam hati "ternyata waktu begitu cepat berjalan". Iya cepat, coba kamu gak usah pake baper-baperan, waktu berjalan seperti biasa kok. Kamunya aja yang baper. (loh ini kenapa jadi emosi).
(Source pic : klik)

Sering kita melihat banyak yang kecewa atau senang ketika teman/sahabat tumbuh menjadi orang lain yang lebih baik dari kemarin atau lebih berbeda dari saat kita masih menghabiskan waktu bersama-sama. Kecewa? Bisa iya bisa tidak. Tergantung nawarnya berapa, masih bisa kurang kok (halaah, dikira tanah abang). Ya, kecewa ketika teman/sahabat tumbuh menjadi orang yang sangat berbeda yang tidak kita kenal sebelumnya. Sebelumnya berkumpul bersama jadi rutinitas sehari-hari, curhat sana sini jadi ajang menasehati satu sama lain padahal hidup sendiri juga masih butuh dikomentarin. Jalan sana sini tanpa ragu karna gak punya uang dan bisa ngutang ke temen yang masih ada persediaan finansialnya. Iya, bahkan dulu untuk ngutang buat makan siang, urat malu berasa tenggelam di dasar samudera hindia. Bagaimana dengan masa sekarang?

Sekarang, 

Social media jadi wadah tontonan aktivitas teman/sahabat yang sudah lama tidak saling kontak. Sudah tidak ada lagi chatting sampai larut malam hanya sekedar untuk membahas kekonyolan yang tadi siang baru dilakukan dan rencana besok mau melakukan apa. Apalagi untuk bisa mengobrol langsung di bawah satu atap, merencanakan aja sepertinya harus ditulis di batu atau prasasti dulu dan dicatat buku sejarah baru kesampaian rencananya. Sekarang mau pinjam uang di tanggal tua aja gengsinya udah di permukaan samudera hindia dan mengurungkan niat pinjam uang alih-alih berpikiran "gengsi ah" atau "gak enak ah" atau "malu ah". Padahal dulu perasaan malu dan gak enakmu itu kamu kubur dalam-dalam. 

Dulu punya banyak waktu tapi uang sedikit. Sekarang punya banyak uang tapi waktu yang sedikit. Rencana hidup masing-masing sudah ditata baik-baik. Kalau ada satu dari sekian banyak rencana yang baru dibuat, yang keluar dari mulut kalau gak "insha Allah", pasti "gak janji ya". Alhasil dalam hati hanya bisa bergumam "mungkin dia punya banyak kepentingan pribadi". 

Kalau waktu sudah berputar dan keadaan sudah tak seperti dulu lagi, apa boleh buat? Ada saatnya kita harus melangkah lebih jauh lagi bersama aktor dan aktris yang berbeda dari kehidupan sebelumnya. Begitulah episode sandiwara kehidupan. Selalu ada yang berganti untuk mengisi posisi sebelumnya. Walau yang sebelumnya tidak akan tergantikan, tetap saja mereka memegang peran penting pada roda kehidupan masing-masing orang. Ada kalanya kesulitan yang dihadapi bersama di masa lalu, dijadikan sebuah pelajaran dan kenangan yang paling berharga. Nantinya, mereka akan terasa seperti rumah yang nyaman saat kita butuh untuk rehat sejenak dari masa sekarang dan berbalik ke belakang untuk sekedar melepas rindu yang terpendam. 


(Source pic : klik)
Perlahan-lahan bibit-bibit kesuksesan seseorang sudah mulai tumbuh. Semakin hari semakin tumbuh. Sebagian yang melihat merasa cemburu karena sama-sama memulai di waktu yang sama, belajar dari perguruan yang sama, dan memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda. Sabar, kawan. Jalan dan rezeki setiap orang berbeda-beda. Kalau kamu lebih banyak menghadapi "tikungan" ketimbang dia yang berlari di jalan tol, nikmatilah. Mengeluh pun tidak akan membuat kamu bisa loncat ke jalan tol di sebrang sana dan berlari kencang mengejar ketertinggalan. 

Ada kalanya kita membutuhkan mereka yang sudah sangat akrab luar dalam dengan sifat-sifat kita. Tengoklah sejenak ke belakang untuk sekedar bersenda gurau melepas rindu akan keakraban masa lalu. Waktumu tidak akan tersita untuk sekedar menjalin silaturahmi walau hanya sebatas chatting beberapa menit. Rencana masa depanmu tidak akan berantakan karena menengok ke belakang sejenak. Tabunganmu juga tidak akan terkuras untuk sekedar membeli segelas kopi yang menemani perbincangan dengan kawan lama. Setiap waktu yang dihabiskan akan selalu memberikan makna kehidupan yang berperan penting dalam hari-hari kita. Berjalanlah seperti biasa. Berjalanlah ke depan untuk menuntaskan tujuanmu, kawan. Saling mendoakan mau tak mau menjadi satu-satunya jalan yang harus kita tempuh bersama, bukan? Tidak ada yang berubah. Namun, memang sudah waktunya keadaan harus berganti peran dengan masa yang sebelumnya. Tapi satu hal, jalinan pertemanan dan persahabatan yang akan selalu membuatmu kuat. 


"Life has no CTRL+Z"

        

You Might Also Like

2 comments

  1. Akhir mingg emang enaknya leyeh leyeh, nooonn.
    keluar juga macet, leyeh leyeh juga di jalan...
    eh seriusan itu masa 100 rebu doang sampe akhir bulan? :0

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini orang komennya malah bagian prolog nya hahahahaha. tak tampol juga kau kuuuur.
      100ribu sampe hari tgl 25 kur. bhahahahaha

      Delete