Kehilangan Ramadhan

9:15 PM


Ramadhan,

Bulan yang penuh berkah bagi umat muslim di seluruh dunia memberikan suasana yang sangat berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Tanpa bulan ini, tidak, membayangkan tidak ada bulan Ramadhan setiap tahun saja aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Ya, sebegitu indahnya lah Ramadhan bagi seluruh umat muslim yang beriman kepada Allah SWT. Mungkin memang tidak semua, sebagian masih belum bisa memaknai Ramadhan sebagai Ramadhan yang terakhir dalam hidupnya.
Source : http://goo.gl/ww55Xg
Aku pernah kehilangan, kehilangan sahabat yang begitu aku percaya. Betul kata pepatah, oh maksudku, betul kata “Quotes” yang sering dipajang di social media, kepercayaan yang sudah dirusak seperti kertas yang sudah diremas. Tidak akan pernah kembali rapih seperti sebelumnya. Tapi, ternyata kehilangan sahabat tidak seburuk saat aku kehilangan Ramadhan. Hal yang lebih bodoh lagi, aku baru menyadarinya beberapa bulan setelah Ramadhan berakhir. Ternyata, Ramadhanku tahun lalu, telah aku sia-siakan begitu saja.

Manusia mana yang saat sedang berada pada puncak gairahnya dalam melakukan sesuatu, menjadi lupa akan hal yang sangat mutlak adanya. Jawabannya, sebagian manusia terlalu asik untuk menikmati hidupnya yang sedang berada di puncak gairahnya. Bukan berarti kesuksesan yang diraih, tapi bagaimana bahagianya dia melakukan sesuatu sampai hal lain tidak dipikirkannya. Aku pernah. Bahkan sampai aku kehilangan Ramadhan tahun lalu.

“oh ya, masih ada besok”

“oh ya, Ramadhan masih 20 hari lagi kok”

“oh ya, nanti saja kalau weekend dan waktunya memang sempat”

“oh ya, gimana kalau buka bersama”

“oh ya, bla bla bla”

Selalu ada banyak alasan ketika ajakan untuk menjalankan amalan di bulan suci Ramadhan menghampiriku. Setelah merenung tentang apa yang sudah dilakukan di tahun lalu, pada akhirnya kesimpulan membuat kalimat “Ramadhan-mu tidak ada artinya” keluar dari benakku saat ini. Ya, tahun lalu, aku sudah kehilangan Ramadhan.

Ajakan-ajakan untuk mendengarkan ceramah walau hanya 15-30 menit selalu kutepis dengan alasan tubuh ini selalu dilanda kantuk karena harus berjuang untuk tetap membuka mata sampai aku sampai di kantor. Benar saja, hampir setiap siang yang aku lewati di kantor selalu kuisi dengan tidur selama 20-30 menit. Kajian demi kajian selalu disodorkan bagi seluruh karyawan yang mau mendengarkannya di masjid. Begitu pula saat berbuka puasa, aku masih menghabiskan waktu di gerbong kereta dan membatalkan puasa dengan sebotol air yang manis. Berlanjut sampai stasiun pemberhentian terakhir, kusambung dengan mengendarai motor sampai di rumah, dan pada akhirnya sholat tarawih berjamaah sudah dimulai bahkan sebelum aku sampai di rumah. Selalu begitu selama hari kerja.

Kukira hari libur akan terasa berbeda, tapi setelah kuputar ulang memory-ku, astaga! hampir selama 4 minggu berpuasa di bulan Ramadhan, hari libur kupakai untuk bersenda gurau dengan teman-teman saat moment buka puasa bersama. Satu waktu tarawih pun kutinggalkan (lagi). Oh ya, satu waktu kebersamaan dengan keluarga sudah kutinggalkan lagi.

Source : http://goo.gl/tAc0Ke
Kau tau, apa yang kurindukan setelah masih dipertemukan dengan Ramadhan tahun ini?

Adalah moment-moment yang tidak terlalu penting saat aku dan adikku berjalan sore untuk mencari takjil berbuka puasa. Atau moment-moment dimana aku berebutan untuk menjadi siapa-yang-keluar-rumah-belakangan-dan-kunci-pintunya sebelum berangkat shalat tarawih dengan ibu dan adikku. Bukan moment-moment berbuka bersama dengan teman-teman sejawat saat sekolah dulu.

Kau tau, silaturahmi tidak harus membuatmu meninggalkan moment berharga Ramadhan-mu.

Kapan lagi kau merasa sangat ngantuk saat imam shalat tarawih membaca surat-surat yang panjang? Kapan lagi kau bisa sisihkan waktumu dengan keluargamu yang selalu merawat dan menunggumu di rumah? Kapan lagi kau bisa bertemu dengan Ramadhan jika tahun berikutnya kau sudah tutup usia?
Ramadhan terlalu indah untuk kau ganti dengan moment berbuka puasa bersama yang terlalu sering kau datangi. Ramadhan terlalu indah untuk kau ganti dengan tidur sepanjang hari tanpa melakukan satu manfaat sekalipun untuk dirimu. Ramadhan masih terlalu indah untuk kau ganti dengan lembur kerjamu. Ramadhan masih terlalu indah untuk sekedar kau isi hanya dengan puasa menahan lapar dan dahaga. Ramadhan memang masih terlalu indah untuk diucapkan dalam sebuah tulisan saja.

Makna Ramadhan tidak ada yang tahu seperti apa. Masing-masing manusia bahkan memiliki makna yang berbeda satu sama lainnya. Bagi sebagian orang, Ramadhan terlalu berat untuk berpuasa di saat pekerjaan yang begitu keras sedang menanti di puing-puing bangunan. Bagi sebagian lainnya, Ramadhan ini terasa mudah karena dijalani dengan ikhlas dan karena Allah SWT. Bagi sebagian lainnya, Ramadhan ini hanya bulan biasa dimana kau harus menahan lapar dan dahaga saja. Entahlah, semuanya memiliki makna yang berbeda satu sama lain.


Jadi, jangan sampai kau kehilangan Ramadhan kali ini. Tidak, bukan kau saja, aku pun tidak mau kehilangan Ramadhan kali ini seperti aku kehilangannya tahun lalu. Sesak rasanya memikirkan jika di tahun berikutnya bahkan kau tidak diizinkan bertemu dengan bulan terindah-Nya. 

You Might Also Like

0 comments