Sebelum bertanya "Kapan nikah?" ke orang lain, Perhatikan hal-hal berikut

4:49 PM

click for pic source
Bagi kamu yang lahir di tahun 90-an, mungkin ini waktunya untuk kamu mempersiapkan batin kalau-kalau serbuan undangan akan datang dimulai dari bulan ini sampai bulan-bulan selanjutnya. Wohooooooo. Gak kerasa udah "timing"-nya buat angkatan tahun 90-an mulai menjejaki fase hidup baru yang disebut dengan rumah tangga. Sebagian mungkin sudah ada yang sedang menunggu baby boy or baby girl-nya yang akan segera meluncur ke dunia. Sebagian mungkin ada yang sedang merencakan bagaimana konsep resepsi pernikahannya nanti. Sebagian lagi mungkin ada yang terpaksa kandas ditengah jalan setelah bertahun-tahun menjalani masa pendekatan alias pacaran yang kalau dihitung-hitung lama waktunya kira-kira kalau berumah tangga anaknya sudah masuk SD. Macem-macem ya. Jadi, dimanakah bagian cerita kita sekarang? Baru prolog mbak, kenalan juga belum. *halaaah. 

Buat kamu yang masih dalam masa pendekatan atau pacaran, pasti seringkali mendapat pertanyaan dari orang-orang sekitar, teman dekat, teman kantor, even your boss ask you that annoying questions. 

Lalu lalu lalu, apa yang akan kamu jawab? 

Emm, iya didoain aja ya. ((((jawab sambil nyengir perih))) 

Nah, sebagian orang memang kadang gak mikir panjang sampai bagaimana dampaknya (jika pertanyaan tersebut ditanyakan) ke sektor perekonomian Indonesia atau angka kemiskinan yang baru-baru ini dipertanyakan penurunannya. Sebagian orang memang kadang gak memikirkan dampak menanyakan kapan nikah ke kondisi Gross Domestic Produk dan efek dominonya bagi aktivitas di pasar tradisional. Sebagian orang memang kadang gak mikirin lagi dampak menanyakan kapan nikah beserta pengaruhnya ke tingkat kepercayaan antar pasangan. IYA, EMANG GAK ADA DAMPAK APA-APA. Itu artinya, menanyakan "kapan nikah?" ke orang lain sebetulnya gak ada effect apa-apa ke diri sendiri selain memuaskan rasa penasaran atau keingintahuan, atau malah kepuasan batin tersendiri. 

Untuk meminimalkan resiko atau efek domino atas dilambungkannya pertanyaan "Kapan nikah?" buat kamu yang penasaran atau sekedar mengaplikasikan nilai-nilai kepedulian terhadap orang lain, sebaiknya perhatikan hal-hal berikut sebagai standar jawaban pertanyaan "Kapan nikah?" yang akan kamu utarakan ke orang lain.

Sesungguhnya, biaya nikah itu murah, kalau nikahnya cukup di KUA aja. Murah kan? 
Tapi, ya namanya juga mempersatukan dua keluarga dengan pandangan hidup dan budaya yang berbeda-beda. Biaya pernikahan yang tadinya murah, bisa jadi gak murah. Harga sepeda motor keluaran 2017 aja masih jauh lebih murah dibanding biaya catering resepsi pernikahan. Jadi, sebelum nanya "Kapan nikah?" ke orang lain, ada baiknya memikirkan bahwa biaya nikah itu gak murah cin. Kali aja si pasangan memang sedang dalam proses tabung menabung atau ngumpulin modal dan cuma soal waktu aja mereka akan menikah. Seperti kata pepatah akhir-akhir ini, semua akan menikah pada waktunya, kan? 

Menikah itu bukan soal siap menjadi seorang istri atau suami orang lain saja. Tapi siap menjalani kehidupan rumah tangga hanya dengan orang yang sama sampai tua nanti. Memilih pasangan hidup itu kan katanya sama dengan memilih masalah yang akan kamu hadapi seumur hidup. Memilih pekerjaan sesuai dengan passion aja susahnya minta ampun. Lah ini soal memilih orang yang akan mendampingi kita dari pagi sampai pagi lagi, dari muda sampai keriput nanti. Sometimes it takes time to know the right person. 

Setiap orang itu punya tujuan hidup dengan jalan masing-masing. Sebagian merasa pernikahan bukanlah menjadi skala prioritasnya. Sebagian lagi menjadikan pernikahan sebagai tujuan hidup utama. Sebagian lagi bahkan menjadikan pendidikan sebagai skala prioritas saat ini. Semua orang punya tujuan hidup dengan skala prioritas masing-masing yang kadang kita tidak mengerti. Berpikir positif bahwa seseorang masih ingin mencapai tujuan hidupnya yang lain sebelum bertanya "Kapan nikah?" sebaiknya jauh lebih baik. 

Mungkin sebagian orang akan berpikir aneh ketika melihat seseorang yang sudah siap secara materi dan mental tapi masih belum mau menikah. Positive thinking aja dengan berpikir bahwa dia sedang menikmati waktu kesendiriannya sebelum memasuki fase hidup yang tentunya jauh lebih menantang. Pemikiran orang memang tidak bisa dipaksakan dan kadang sulit dimengerti. Namun yang perlu kita ketahui, sebagian orang juga ingin menikmati waktu atau masa-masa dimana bisa melakukan segalanya sendiri. Kesannya memang pernikahan seperti memberikan seseorang kurungan sehingga tidak bisa menikmati waktunya sendiri, ONLY if you see that from those side dalam mengerti makna "menikmati waktu". Got my point, right? 


The last, gak usah sering-sering nanya "Kapan nikah?" ke orang lain. Kamu kok kayaknya yakin banget bakal di undang ya? Mueheehehehee. 

You Might Also Like

2 comments

  1. Yach.. Not bad.. Dari pada vakum gak nulis :D

    Best part dari tulisan ini --> Memilih pasangan hidup itu kan katanya sama dengan memilih masalah yang akan kamu hadapi seumur hidup

    ReplyDelete
  2. Caption akhirnya lucknut bet ya. ��

    ReplyDelete