Mengenal Generasi Millenial dalam Dunia Kerja

8:08 PM

pic source
Generasi millennial adalah terminologi generasi yang lahir di tahun 1980an sampai tahun 2000an. Jadi, bisa dikatakan generasi millennial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia di kisaran 17-34 tahun. 

Berbeda dengan generasi X yang sekarang berusia 35-55 tahun, generasi millennial ini tumbuh seiring dengan lahir dan berkembangnya teknologi-teknologi canggih masa kini, sarana maupun pra-sarana yang menunjang kebutuhan hidup menjadi lebih mudah. Tak heran karena mereka tumbuh seiring dengan lahirnya teknologi canggih, generasi millennial ini mampu beradaptasi secara cepat dan bahkan menciptakan teknologi itu sendiri. 

Selain tumbuh seiring dengan perkembangan teknologi, dunia pendidikan, perubahan pola pikir dan pola belajar juga menjadikan generasi millennial ini memiliki kreativitas dan daya inovasi tinggi. Meski tidak semua generasi millennial ini bisa dikatakan kreatif dan inovatif, namun generasi ini sedang mendominasi kehidupan di seluruh dunia dengan penemuan maupun pemikiran-pemikiran akan perubahan yang lebih berarti bagi kehidupan manusia. 

Sebagian generasi millennial ini mampu bersaing dimanapun mereka berada. Mereka cukup mampu untuk hidup di antara satu benua maupun benua lainnya. Saking mudahnya perangai adaptasi mereka terhadap perubahan baik budaya, kegiatan sehari-hari, maupun beberapa hal lainnya, membuat generasi millennial menjadi “agile” atau mudah loncat sana loncat sini. 

Dalam dunia kerja, generasi millennial ini sedang mendominasi perusahaan-perusahaan dari mulai kelas startup sampai dengan vertical company. Banyak bermunculan karyawan-karyawan muda yang mampu bersaing dengan seorang manager yang baru menempati posisinya setelah bertahun-tahun bekerja. Katakanlah Toni dari X-gen dan Stark dari Millennial-gen, dalam 10 tahun bekerja di perusahaan Toni menempati posisi seorang manager di usiany yang menginjak 36 tahun. Sedangkan Stark, di tahun ketiganya mampu membuat beberapa batu loncatan yang membuat dia dipromosikan menjadi seorang manager. 

Minat belajar yang tinggi 
pic source
Pernah melihat seorang karyawan (age millennial) masih bertahan di perusahaan yang terus menerus memberinya beribu pekerjaan sampai harus lembur di akhir pekan? Percayalah, kadang generasi millennial ini sekuat baja sampai mampu menghadapi segala tantangan di depan. Tahu kenapa? Generasi ini haus akan sesuatu yang baru, value akan pekerjaan itu sendiri, minat untuk belajar hal baru masih sangat tinggi. Sampai akhirnya mereka merasa bahwa pekerjaan yang mereka geluti tidak hanya memberikan mereka gaji setiap bulanan, tapi juga segudang ilmu dan pengalaman yang bisa mereka jadikan bekal di masa depan. 

Si Kutu Loncat 

pic source

Berbekal kemauan dan kemampuan belajar yang tinggi, generasi millennial ini merasa sangat berarti bagi yang lainnya. Ya, sekali lagi mereka memang tumbuh dan berkembang seiring dengan lahirnya teknologi maupun fasilitas yang semakin memadai. Sebagian dari mereka yang dapat memanfaatkan itu dengan baik, tentunya dapat menjadi seseorang yang patut diperhitungkan. 

Namun, perlu diingat, kelemahan dari generasi millennial ini tentunya mudah berpaling hati. Jika mereka tidak menemukan adanya value atau “learning curve” yang baik dari pekerjaan mereka, mereka akan dengan mudah membuka dan mengepakan sayapnya untuk loncat ke tempat lain (loh tadi katanya kutu loncat, kenapa ada sayapnya?)

Di zaman yang serba modern ini, sebetulnya mudah untuk mencari pekerjaan jika kamu memiliki segudang bekal yang patut diperhitukan. Pekerjaan bahkan perusahaan akan mudah menghampiri selagi kita mampu menjual diri kita melalui website penyedia lowongan kerja. Akan dengan mudah bagi mereka menerima telepon dari para head hunter maupun recruiter yang sedang mencari posisi dengan skill yang mereka miliki. 

Si Pembangkang 

Sebetulnya bukan membangkang perintah yang diberikan oleh boss atau atasan. Cara komunikasi yang harus dilakukan dalam menghadapi generasi millennial ini agak sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya. 

Jika memberikan instruksi pada Toni yang berusia 36 tahun cukup satu kali ucapan, lain halnya ketika memberikan satu pekerjaan kepada stark si anak millennial usia 27 tahun. Jika ekspektasi kamu Stark akan memberikan hasil yang lebih dari Toni, yes he can do it. But remember, with his own way. 

Generasi millennial ini selalu mendobrak cara-cara lama dalam pekerjaan. Menemukan beberapa hal yang baru, memberikan banyak input, menemukan banyak jalan menuju Roma, terkadang hal-hal tersebut membuat Stark disebut sebagai si Pembangkang (dalam hal yang positif). 

Maka dari itu, pola komunikasi yang digunakan pada generasi ini sudah bukan dalam bentuk “order” namun dalam bentuk yang persuasive. Ajak mereka berbincang, meminta feedback atau pendapat, dengan sendirinya mereka akan bekerja secara “autopilot” jika komunikasi ini sudah dijalin dengan baik. 

Tidak melulu semuanya soal uang 

Ketika bicara soal gaji bulanan yang diterima, seseorang akan berpikir dua kali jika perusahaan selanjutnya yang ingin merekrutnya memberikan gaji lebih rendah dari perusahaan sebelumnya. Hal ini tidak selalu berarti bagi generasi millennial. Mungkin karena skill mereka yang multitalent sehingga bisa menghasilkan uang dari segala penjuru, perlu diketahui uang tidak selalu menjadi patokan generasi millennial dalam memilih perusahaan. 

Bicara soal uang dan benefit itu penting. Tapi, tidak jarang kamu menemukan generasi ini loncat ke perusahaan lainnya jika dia sudah tidak mendapatkan semangat belajar dan tidak ada lagi tantangan di perusahaan tersebut. Katakanlah “learning curve” tersebut hilang dari pekerjaan sehari-harinya, katakanlah dia hanya mengerjakan BAU (business as usual) dimana dia hanya mengerjakan pekerjaan sehari-harinya in the normal way. Trust me, you only have him/her for only 2 years. No more. 

Beda prinsip. Kita sudahi saja? 
pic source
Bukan cuma pacaran aja generasi ini mudah putus hubungan, kemudian ganti yang baru. Bahkan perihal beda prinsip dengan perusahaan yang dia tempati sekarang, mudah untuknya memberikan surat pengunduran diri. “Beda prinsip, beda visi, beda jalan, ah sudahlah, masih banyak perusahaan di luar sana yang sejalan kan?” Yes, its true! Karena mereka merasa memiliki bekal yang cukup, kreatif, inovatif, kritis, sangat mudah untuk mereka menyudahi suatu pekerjaan jika prinsip sudah berbeda. 

Bgitulah kira-kira. Memang tidak semua generasi millennial ini seperti yang saya paparkan di atas. Namun, sebagian besar didominasi oleh spesies dengan sedikit gambaran tersebut. Sesungguhnya banyak dari generasi ini yang memang pada akhirnya berakhir sebagai generasi penerus yang patut di perhitungkan. Sebut saja Nadiem Makarim, Diana Rikasari, Dian Pelangi, atau sederet nama generasi millennial lainnya yang mampu membuat perubahan yang patut diperhitungkan di kelas nasional maupun internasional. 

Menghadapi generasi millennial yang sedang cerah di masanya ini tentu banyak kelebihan dan kekurangannya. Di satu sisi perusahaan tentu banyak mendapatkan keuntungan dari sisi manapun, tapi di sisi lain perusahaan juga harus kalau generasi ini siap sedia mengencangkan sabuknya untuk terbang ke tempat lain yang dirasa lebih baik. 




You Might Also Like

0 comments