5 Hal Dominan yang Membuat Millenial Resign dari Perusahaan

Millenials, anak-anak generasi Baby Boomers dan Gen X ini memang selalu punya cerita menarik untuk kita pelajari. Ya meskipun penulis juga merupakan umat Millenials masa kini, tidak dapat dipungkiri juga saya kadang ingin menertawakan generasi saya sendiri. Selain kreatifitasnya melampaui batas akal sehat, kadang kelakuan generasi Millenials ini bisa menjadi contoh yang baik yang bisa kita terapkan dalam kehidupan. 

Photo by Buro Millennial from Pexels

Well, sebelumnya saya akan melakukan disclaimer terlebih dahulu, saya memang anak Millenials, lahir di pertengahan tahun 1990 - 2000an, tapi apa yang akan saya paparkan dalam tulisan ini belum tentu juga berlaku pada generasi Millenials lainnya. Jadi, 5 Hal Dominan yang membuat Millenials resign dari perusahaan ini tergantung dari pribadi si Millenials itu sendiri. Tapi, kira-kira 5 hal dominan berikut ini bisa mewakili alasan kenapa karyawan usia Millenials ini mudah resign dari perusahaan. 

1. Tidak semuanya soal gaji ataupun benefit 
Bagi generasi Gen X  atau Baby Boomers, gaji dan benefit perusahaan adalah hal utama yang dipertimbangkan. Sedangkan Millenials, gak melulu resign karena ditawarkan gaji dan benefit yang lebih besar. Banyak kok contohnya di perusahaan saya sebelumnya, baik di counter-attack sama HR dengan tawaran gaji 2 kali lipat supaya gak resign, eh tapi Millenials tetap memutuskan untuk resign walau gaji atau benefit di perusahaan barunya tidak sebagus perusahaannya sekarang. Eh tapi jangan pikir Millenials gak akan tergiur juga kalau ditawarin gaji yang bahkan 100% kenaikannya. Tuntutan gaya hidup Millenials juga bisa bikin mereka resign dengan cepat kalau gajinya naik sampe 2x atau 3x lipat. Duh, jaman sekarang nolak cuan yang lebih banyak kayaknya jarang ya. But again, kadang gak semuanya itu soal gaji atau benefit. 

2. Learning Curve, Room of Improvement, tantangan baru, intinya belajar hal yang baru 
Nah, kalau bukan soal gaji, lantas soal apa tuh yg bikin Millenials cepet memutuskan resign? Alasan-alasan semacam Learning Curve atau ruang belajar ini sering banget jadi alasan Millenials resign. Kenapa? Pada dasarnya generasi kita ini emang bosenan intinya. Bosen kalau kerjaan yang lagi dikerjain tuh ya itu-itu aja, ga ada tantangan baru, ga ada pembelajaran baru, ga ada ruang untuk mengembangkan diri lagi. Alasan-alasan klasik ini sebenernya banyak kita temui, tapi faktanya memang betul. Millenials ini rasa ingin tahu dan penuh tantangannya lebih besar dari generasi lainnya. Jadi, kalau dikasih kerjaan yang itu-itu aja gak bikin berkembang, duh kita cepat bosan tuh. 

3. Atasan yang "gak asik"
Photo by Moose Photos from Pexels
Nih saya kasih tau satu hal, kalau kamu punya bawahan anak-anak Millenials, kamu gak akan bisa pakai cara kepemimpinan order (perintah). Tapi, bawahan mu akan mengerjakan apa yang kamu mau itu dengan cara negotiate (bernegosiasi). Kenapa? Karena Millenials ini saking pada pinter-pinter dan cerdas-cerdas, kadang ada sebagian dari mereka gak akan mau menerima perintah kalau menurut mereka gak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan. Maka yang terjadi adalah si atasan harus pintar bernegosiasi dan mengambil keputusan yang terbaik agar bawahannya bisa menjalankan tugasnya. Gak jarang juga loh Millenials itu banyak resign karena atasan yang gak asik. Para lead, supervisor, manager, atau sebutan atasan lainnya emang harus berusaha lebih keras untuk memimpin team yang banyak Millenialsnya. Tapi, untungnya Millenials ini banyak yang auto-pilot, dikasih tau sekali mereka bisa langsung jalan tuh. 

4. Culture perusahaan yang gak sejalan sama prinsipnya
Photo by Visual Tag Mx from Pexels

Kayaknya untuk alasan yang satu ini berlaku untuk semua karyawan lintas generasi ya. Tapi, Millenials ini tergolong cepat memutuskan untuk resign kalau culture perusahaannya udah gak cocok tuh sama prinsip-prinsipnya. Contohnya aja, culture di perusahaan pemerintah pasti beda dong sama perusahaan Start Up. Sering banget Millenials merasa gak cocok dengan perusahaan dengan gaya tradisional atau corporate banget lah. Sekali ngerasa gak cocok dengan perusahaannya, Millenials ini gampang banget buka linkedin terus apply di perusahaan lain. Oh ya, tau banget dong ya kebiasaan Millenials yang punya budaya "bebas dan kreatif" ini. Millenials menjunjung tinggi kebebasan bekerja dengan satu syarat: kreatifitas dan hasil kerja yang baik. Mangkanya gak sedikit tuh mereka penganut paham "dateng siang pulang malam, asal kerjaan selesai".

5. Posisi baru yang ditawarkan menggiurkan 
Siapa yang gak mau kalau ditawarkan 1 tingkat lebih tinggi posisinya dibanding perusahaan sebelumnya? Sama dong, Millenials ini juga ga bisa nolak. Sekarang itu jamannya para Millenials mengambil posisi-posisi penting di perusahaan. Suka liat gak sih 27 atau 28 tahun tapi posisi di profile linkedin-nya udah "VP of Marketing", atau "Head of Customer Service". Posisi yang lebih menantang di perusahaan yang baru juga bisa jadi salah satu bukti pencapaian Millenials atas kerja kerasnya. Gak sedikit dari mereka memutuskan resign untuk mengambil tantangan yang lebih luas lagi. Iya, saking pinter dan kreatifnya, Millenials ini juga bisa dipercaya perusahaan memegang posisi penting. Kebanyakan mereka terjun ke startup company untuk mencoba posisi baru yang ditawarkan. Duh, posisi naik gaji naik, udah auto-sign-in contract deh ini mah. 

5 hal dominan ini belum tentu kita temukan di perusahaan. Kadang perusahaan sudah se-loyal apapun tetap aja gak akan membuat seseorang bertahan karena 1001 alasan yang ada. Gak semua juga Millenials gampang resign dari perusahaan, banyak juga kok Millenials yang betah bekerja >2tahun. Kira-kira, dari alasan di atas yang dominan, kamu salah satu yang nomor berapa ya? 


You Might Also Like

0 coment�rios